KANAL

Antara Klakson dan Keheningan: Tragedi Bojong yang Memutus Harapan Menjelang Idul Fitri

×

Antara Klakson dan Keheningan: Tragedi Bojong yang Memutus Harapan Menjelang Idul Fitri

Sebarkan artikel ini

SUMEDANG, KAPOL.ID – Aspal hitam di persimpangan lampu merah Bojong pagi ini menjadi saksi bisu dari sebuah perpisahan yang tak sempat terucap. Rabu, 18 Maret 2026, sekitar pukul 07.05 WIB, deru mesin dan riuhnya klakson kendaraan yang mulai dipadati pemudik mendadak sunyi, digantikan oleh jerit pilu sebuah tragedi.

Sebuah mobil box hitam bernopol B 9491 PXV dan dua unit sepeda motor (Z 5652 dan Z 6245 A) terlibat dalam benturan hebat yang merenggut segalanya dalam sekejap. Dua nyawa dinyatakan gugur di lokasi kejadian, sementara satu korban lainnya kini tengah berjuang di antara hidup dan mati dalam perawatan medis yang intensif.

*Puing-Puing Harapan yang Berserakan :*

Di pinggir jalan, mobil box kuning itu tampak terguling pasrah, sementara kerangka sepeda motor yang ringsek menjadi pengingat betapa rapuhnya hidup manusia di atas aspal. Petugas gabungan yang tiba di lokasi segera mengevakuasi raga para korban ke fasilitas kesehatan terdekat, di tengah kemacetan panjang yang mengular—seolah jalanan pun ikut berduka atas apa yang baru saja terjadi.

Hingga saat ini, pihak kepolisian masih terus mendalami penyebab pasti insiden tersebut sembari mendata identitas lengkap para korban.

Menjelang Idul Fitri, setiap putaran roda kendaraan sejatinya adalah langkah menuju pelukan keluarga. Namun, tragedi di Bojong ini mengingatkan kita pada satu kenyataan pahit: kecepatan bisa dikejar, tapi nyawa tak bisa dipanggil kembali.

Rumah tidak akan lari ke mana-mana, namun kecerobohan sesaat bisa menjauhkan kita dari pintu rumah selamanya.

Kurangi kecepatan dan fokuslah. Persimpangan jalan bukan sekadar titik temu arus kendaraan, tapi seringkali menjadi titik temu antara keselamatan dan marabahaya.

Ingatlah wajah-wajah yang sedang menyiapkan hidangan Lebaran di rumah. Mereka menanti kepulangan Anda, bukan kabar duka dari ambulans.

“Di ujung aspal yang jauh, ada doa ibu yang mengiringi. Di teras rumah yang sepi, ada anak yang menghitung hari. Jangan biarkan kursi di meja makan saat Lebaran nanti kosong hanya karena kita abai di jalan raya.(GUH)***