BISNIS

Panduan Budi Daya Ayam Petelur Cage-Free Skala Komersial Pertama di Indonesia Resmi Diterbitkan

×

Panduan Budi Daya Ayam Petelur Cage-Free Skala Komersial Pertama di Indonesia Resmi Diterbitkan

Sebarkan artikel ini
Buku “Budi Daya Ayam Petelur Cage-Free Skala Komersial di Indonesia” karya Sandi Dwiyanto dan Mutzu Huang dari Lever Foundation.*

KAPOL.ID –
Buku “Budi Daya Ayam Petelur Cage-Free Skala Komersial di Indonesia” diterbitkan pada Desember 2025 merespon perhatian konsumen terhadap keamanan pangan.

Beberapa tahun terakhir, tren global menunjukkan meningkatnya kepedulian terhadap isu kesejahteraan hewan dan keamanan pangan. Khususnya dalam sistem pemeliharaan ayam petelur.

Dimana lebih dari 2.300 perusahaan pangan telah berkomitmen untuk beralih ke penggunaan 100% telur cage-free. Termasuk SuperIndo, Swiss-Belhotel, dan Ismaya Group.

Buku ini ditulis oleh Sandi Dwiyanto dan Mutzu Huang dari Lever Foundation. Penyusunannya melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Seperti Kementerian Pertanian, akademisi, asosiasi, perusahaan integrasi, serta peternak.

Sandi Dwiyanto menyampaikan, beberapa tahun terakhir permintaan terhadap produk pangan etis, aman, dan berkelanjutan terus meningkat. Perusahaan pangan global maupun domestik mulai beralih ke penggunaan telur 100% cage-free dalam rantai pasok mereka.

Di saat yang sama, Kementerian Pertanian telah menerbitkan Permentan no 32 tahun 2025. Tentang Kesejahteraan Hewan pertama di Indonesia guna memperkuat daya saing sektor pangan nasional.

Pertanian Press sebagai penerbit, materi dalam buku ini telah disesuaikan sepenuhnya dengan praktik budi daya di Indonesia. Agar relevan dengan kondisi lokal, sekaligus memperkenalkan metode berkelanjutan. Dari tingkat internasional untuk kebutuhan pelaku industri perunggasan nasional.

“Melalui buku ini, kami ingin memberikan panduan yang tidak hanya mencakup konsep dan prinsip teknis. Tetapi
juga pengalaman lapangan, analisis ekonomi.”

“Serta praktik manajemen yang telah diterapkan oleh peternak di Indonesia maupun di negara lain. Kami berharap buku ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi sektor perunggasan,” ujar Dwiyanto.

Staf Ahli Menteri Pertanian Republik Indonesia Bidang Hilirisasi Produk Peternakan, Prof. Dr. Ir. Ali Agus juga memberi apresiasi. Buku ini menjadi panduan penting di tengah dinamika industri perunggasan global.

Isu kesejahteraan hewan, keamanan pangan, dan keberlanjutan semakin menjadi perhatian utama yang tidak dapat diabaikan oleh Indonesia.

“Perubahan paradigma menuju sistem produksi yang lebih memperhatikan kesejahteraan hewan merupakan suatu
keniscayaan,” jelasnya.

Beberapa Negara

Bahkan, di Eropa sistem battery cage telah ditinggalkan. Australia, Amerika Serikat, Korea Selatan, serta sejumlah negara ASEAN juga bergerak ke arah yang sama.

“Indonesia perlu memposisikan diri sebagai bagian dari transformasi ini. Bukan sekadar mengikuti, terutama ketika tuntutan pasar global dan komitmen perusahaan terhadap telur cage-free terus menguat setiap tahunnya,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional Heri Dermawan mengatakan buku ini memberikan gambaran yang komprehensif. Mulai dari tren global dan standar kesejahteraan hewan hingga manajemen teknis termasuk studi kasus peternakan di Tiongkok.

“Perubahan dalam industri pangan global mendorong kita bagaimana praktik budi daya dapat menjadi lebih berkelanjutan. Adaptif terhadap kebutuhan pasar,” kata pria yang juga Anggota Komisi IV DPR RI ini.

Ia menilai, buku ini dapat menjadi analisis bisnis di Indonesia. Yang dapat mendukung pengambilan keputusan strategis bagi peternak yang mempertimbangkan transformasi sistem.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU)
Achmad Dawami punya harapan. Buku ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi para pemangku kepentingan dalam memahami tren dan peluang tersebut.

“Sekaligus menjadi dasar dalam merumuskan strategi yang tepat untuk menghadapi dinamika industri global,” katanya. ***