BISNIS

Japfa dan Fapet UGM Kembangkan Model Farm Ayam Petelur Umbaran

×

Japfa dan Fapet UGM Kembangkan Model Farm Ayam Petelur Umbaran

Sebarkan artikel ini
Salah satu metode peternak cage free yang saat ini mulai banyak diminati pasar lokal dan nasional.*

KAPOL.ID –
PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (Japfa) menjalin kolaborasi dengan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM). Dalam membangun model farm ayam petelur umbaran.

Seiring dengan perkembangan telur cage-free di Indonesia meningkat signifikan sejak 2025. Banyak perusahaan makanan yang mulai mengalihkan rantai pasok mereka ke sistem pemeliharaan tanpa kandang baterai/umbaran (cage-free).

Sebagai dukungan awal, Japfa menyediakan hibah sebanyak 1.500 pullet (ayam dara siap bertelur). Serta pasokan pakan selama fase produksi.

Juga operasional kandang ayam petelur sistem umbaran yang berlokasi di UGM Innovation and Agro-Technology Center, Yogyakarta.

Dekan Fapet UGM, Budi Guntoro mengatakan, model cage-free memungkinkan ayam bergerak lebih bebas dan mengekspresikan perilaku alaminya.

“Ketika kesejahteraan hewan terpenuhi, tingkat stres menurun, yang berdampak positif terhadap produktivitas dan kualitas telur,” ujarnya saat acara serah terima hibah di kandang Pusat Unggulan Antar Perguruan Tinggi (PUAPT), Fapet UGM, Selasa (21/4/2026).

Ia menambahkan bahwa meskipun skala awalnya belum besar, model farm ini berfungsi sebagai basis ilmiah. Untuk menyediakan data produksi langsung bagi para peternak telur di seluruh Indonesia yang tertarik mengembangkan sistem ini.

“Fasilitas cage-free ini tidak hanya berfungsi sebagai unit produksi. Tetapi juga sebagai platform riset untuk mengembangkan sistem peternakan yang lebih efisien dan berkelanjutan.”

“Kini produk telur cage free semakin diminati oleh Horeka dan perusahaan makanan global,” ujar Arif Widjaja, COO Poultry Indonesia Japfa.

Sementara itu, Sandi Dwiyanto, Sustainable Poultry Program Manager di Lever Foundation, menyambut baik kolaborasi antara Japfa dan Fapet UGM. Serta menekankan pentingnya inisiatif ini dalam mendorong transformasi industri perunggasan di Indonesia.

“Pengembangan model farm cage-free dalam lingkungan akademik memberikan fondasi penting untuk menghasilkan data ilmiah yang relevan dengan konteks Indonesia.”

“Hal ini krusial untuk menjembatani kebutuhan industri, ekspektasi pasar global. Serta peningkatan aspek keamanan pangan dan kesejahteraan hewan,” ujarnya.

Ia menambahkan, permintaan global terhadap produk telur cage-free terus meningkat. Terutama dari sektor ritel, perhotelan, restoran, serta perusahaan FMCG dan layanan makanan.

Tren ini diperkuat oleh survei konsumen yang dilakukan oleh GMO Research pada Juli 2025. Survei tersebut menunjukkan bahwa 72% konsumen percaya perusahaan makanan seharusnya hanya menggunakan telur cage-free dalam rantai pasoknya.

Survei

Selain itu, 55% konsumen menyatakan lebih cenderung memilih merek makanan yang menggunakan 100% telur cage-free.

Lebih dari 2.000 perusahaan makanan global telah berkomitmen untuk menggunakan 100% telur cage-free pada tahun 2025 atau 2027. Seperti KFC, Burger King, The Coffee Bean & Tea Leaf, Nestlé, Hyatt, dan Marriott Hotels.

Bahkan Swiss-Belhotel International Indonesia juga telah mengumumkan komitmennya untuk beralih sepenuhnya ke telur cage-free di 91 lokasi hotel.

Sejumlah pelaku usaha di tingkat nasional seperti Superindo, Ismaya Group, Bali Buda, Jiwa Jawi sedang dalam proses transisi menuju kebijakan pengadaan telur cage-free.***