SUMEDANG, KAPOL.ID – Proyek Strategis Nasional Inpres Jalan Daerah (IJD) ruas Burujul-Sanca senilai Rp36 miliar kini diduga berada di ujung tanduk.
Alih-alih menjadi urat nadi ekonomi, proyek megah ini justru menyisakan “catatan merah” bagi para mitra lapangan. Memasuki H + 9 hari Lebaran, Senin (30/03), pembayaran bagi lima sub-kontraktor (subkon) dilaporkan masih macet total.
Kondisi kritis ini sejatinya telah dirasakan sejak 1,5 bulan terakhir. Harapan para subkon untuk mendapatkan haknya sebelum hari raya pupus setelah aliran dana dari kontraktor utama tak kunjung cair.
Akibatnya, para mitra kini terjepit di antara tumpukan tagihan material dan desakan upah buruh yang belum terbayarkan.
“Kami sudah kepalang basah. Kami dikejar penagih material, tapi yang lebih menyakitkan adalah nasib pekerja. Lebaran sudah lewat 10 hari, tapi hak mereka masih menggantung,” ujar salah satu perwakilan subkon dengan nada kecewa, Senin (30/03).
Menurutnya, secara kontrak proses opname dan pembayaran seharusnya dilakukan setiap dua minggu sekali. Namun kenyataannya, sudah satu bulan setengah pekerjaan berjalan tanpa ada realisasi pembayaran.
“Kami sangat khawatir karena pihak yang selama ini dianggap penanggung jawab pekerjaan justru bungkam. Beberapa kali diklarifikasi melalui telepon, tidak ada jawaban. Bahkan saat ditelpon berulang kali, mereka seperti sengaja tidak mengangkatnya,” tambahnya.
Merespons gejolak yang kian memanas, pengawas lapangan dari Kementerian PUPR yang akrab disapa Abah Jenggo, menegaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi intensif dengan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).
“Pihak PPK sudah memberikan penekanan keras kepada pihak kontraktor. Namun, sampai hari ini, Senin 30 Maret 2026, penyelesaian kewajiban kepada para subkon memang belum terealisasi,” ujar Abah Jenggo melalui sambungan telepon.
Guna menghindari janji kosong, Abah Jenggo menyarankan agar para subkon segera mengambil langkah formal secara tertulis begitu pihak penanggung jawab muncul di lokasi.
Komunikasi harus diarahkan langsung kepada Pak Santo atau Pak Deni dengan mencantumkan tanggal pasti realisasi pembayaran.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Kontraktor selaku penanggung jawab pekerjaan belum memberikan respons terkait keterlambatan pembayaran tersebut.
Upaya konfirmasi melalui sambungan telepon maupun pesan singkat yang dilakukan tim redaksi pun belum mendapatkan jawaban.
Kini, bola panas berada di tangan kontraktor utama. Publik Sumedang menanti, akankah keringat para pekerja di lintasan Burujul-Sanca segera dibayarkan, ataukah proyek fantastis ini akan terus tersandera oleh tata kelola finansial yang buruk?.***






