SUMEDANG – KAPOL.ID — Harapan warga di pelosok perbatasan Sumedang-Indramayu untuk memiliki akses jalan mulus kembali menemui jalan buntu. Proyek strategis pembangunan jalan poros Burujul – Sanca yang menelan anggaran fantastis senilai Rp 36 miliar dilaporkan “lumpuh” total.
Pasca-libur Lebaran, aktivitas di lokasi pengerjaan bak “mati suri” selama hampir dua pekan tanpa kejelasan.
Pantauan di lapangan menyuguhkan pemandangan yang memprihatinkan. Tumpukan material batu dan deretan alat berat hanya terparkir membisu di pinggir jalan. Tak ada raungan mesin, apalagi hilir mudik pekerja.
Kondisi ini memicu reaksi keras dari Aparatur Desa Ciawitali yang mewakili keresahan warga Desa Ciawitali dan Desa Gendereh.
Warga mempertanyakan profesionalisme pelaksana proyek. Dengan anggaran negara yang mencapai puluhan miliar rupiah, mandeknya pengerjaan ini dinilai tidak masuk akal.
“Kami sangat mengidam-idamkan akses jalan ini terwujud dengan kualitas yang diharapkan. Kenapa proyek dengan anggaran sebesar Rp 36 miliar ini bisa berhenti tanpa kejelasan? Kami butuh jawaban,” ungkap salah satu perangkat desa Ciawitali dengan nada kecewa.
Gerah dengan situasi yang berlarut-larut, Camat Buahdua, H. Kiki Hakiki, memastikan pihaknya tidak tinggal diam. Ia menegaskan telah mengambil langkah formal untuk mengadukan kemandekan proyek ini melalui jalur struktural.
“Pihak Pemerintah Kecamatan sudah menyampaikan keluhan masyarakat dari dua desa ini secara resmi kepada Dinas PUPR Kabupaten Sumedang. Kami meminta agar laporan mengenai molornya proses pekerjaan ini diteruskan langsung ke pihak Kementerian PUPR sebagai pemberi anggaran,” tegas Kiki saat memberikan tanggapan, Selasa (7/4).
Langkah ini diambil atas dasar urgensi yang mendesak. Menurut Kiki, kebutuhan warga akan akses jalan sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Masyarakat hanya menginginkan satu hal: alat berat kembali menderu dan pekerjaan diselesaikan sesuai standar kualitas yang dijanjikan.
Urat Nadi Perbatasan
Bagi warga perbatasan, jalan poros ini bukan sekadar hamparan aspal nantinya, melainkan urat nadi kehidupan yang telah dinanti selama puluhan tahun. Akses ini merupakan jalur vital bagi:
Akses Pendidikan: Jalur utama siswa SMP hingga SMA/SMK menuju sekolah.
Perekonomian: Penghubung distribusi hasil bumi antara Kabupaten Sumedang dan Indramayu.
Kesehatan: Jalur evakuasi medis warga menuju fasilitas kesehatan terdekat.
“Jangan sampai penantian puluhan tahun warga berakhir pada kekecewaan karena pengerjaan yang tidak profesional,” tambah salah satu perangkat desa tersebut.
Langkah Camat Buahdua yang mendesak laporan hingga ke tingkat kementerian melalui PUPR Sumedang menjadi sinyal kuat adanya sumbatan serius dalam manajemen proyek di lapangan. Kini, publik menunggu respons dari Kementerian PUPR dan pihak pelaksana.
Akankah laporan ini memaksa kontraktor kembali ke lapangan, ataukah anggaran Rp 36 miliar tersebut akan terus “terparkir” bersama alat-alat berat yang mulai berdebu di pinggir jalan? Warga Ciawitali dan Gendereh kini hanya bisa menanti pembuktian atas janji pembangunan yang merata hingga ke tepian daerah. (Guh)***








