PESANTREN

Seni Memaafkan: Jangan Ada “Ungkap” Setelah “Maaf”

×

Seni Memaafkan: Jangan Ada “Ungkap” Setelah “Maaf”

Sebarkan artikel ini
Abuya Prof. Dr. (H.C.) K. H. M. Muhyiddin Abdul Qodir Al-Manafi, MA

Oleh : Majlis Ta’lim Bersatu (MTB) Sumedang

SUASANA khidmat saat itu menyelimuti Masjid Agung Sumedang pada Kamis, 9 April 2026. Ribuan jamaah yang tergabung dalam Majlis Ta’lim Bersatu (MTB) Sumedang berkumpul dalam helatan ke-179 sekaligus momen Halal Bihalal yang penuh kehangatan.

Di tengah riuhnya silaturahmi, sebuah pesan tajam namun menyejukkan mengalir dari Pimpinan Umum Pesantren Islam Internasional Terpadu Asy-Syifaa Wal Mahmuudiyyah, Pangersa Abuya Prof. Dr. (H.C.) K.H. Muhammad Muhyiddin Abdul Qodir Al-Manafi, MA.

Pesan tersebut sederhana secara lisan, namun mendalam secara esensi: “Jangan Ada Ungkap, Setelah Ada Kata Maaf.”

Dalam opininya, Abuya menekankan bahwa memaafkan bukanlah sekadar formalitas lisan atau jabatan tangan di hari raya. Seringkali, ego manusia masih menyisakan “bara” meski bibir sudah mengucap ikhlas.

“Artinya kalau sudah memaafkan, jangan diungkit-ungkit lagi. Jangan sampai ongkoh tos dimaafkeun, tapi anger diomongkeun (Katanya sudah dimaafkan, tapi tetap dibicarakan). Jangan sampai ongkoh tos dimaafkeun, tapi anger diungkit-ungkit.”

Abuya mengingatkan bahwa memaafkan yang sejati adalah ketika kita mampu menutup rapat buku kesalahan masa lalu orang lain dan tidak membukanya kembali untuk dijadikan senjata dalam perdebatan di kemudian hari.

Jari Anda, Keselamatan Anda:

Tidak hanya soal lisan, Abuya juga menyoroti fenomena digital masa kini. Di era di mana jari seringkali bergerak lebih cepat daripada hati, Abuya berpesan agar setiap jamaah mampu menjaga “jari” mereka di media sosial.

Membuat status yang buruk, memprovokasi, atau menyebar aib di media sosial bukan hanya melukai orang lain, tetapi sejatinya sedang mencelakakan diri sendiri, baik secara sosial maupun di hadapan Sang Khalik.

Menjaga hati dan lisan kini bertransformasi menjadi menjaga ketikan di layar ponsel.

Tausiah Singkat:

Memurnikan Hati di Hari Kemenangan
Dalam petikan tausiahnya, Pangersa Abuya menyampaikan:

“Anak-anakku, jamaah MTB yang dimuliakan Allah, sesungguhnya kemuliaan seseorang bukan dilihat dari seberapa kuat dia membalas dendam, melainkan seberapa luas dadanya dalam menampung kekhilafan orang lain. Allah SWT maha pengampun tanpa mengungkit-ungkit dosa hambanya yang telah bertaubat, maka siapa kita yang berani terus mengungkit kesalahan sesama yang sudah meminta maaf?

Jaga lisanmu agar tidak melukai, dan jaga jarimu dari status media sosial yang sia-sia. Karena sesungguhnya, keselamatan manusia bergantung pada kemampuannya menjaga lidah (dan jempolnya). Mari kita jadikan Halal Bihalal ini sebagai momentum untuk benar-benar ‘bersih’, bersih dari dendam, bersih dari prasangka, dan bersih dari keinginan untuk mengungkit luka lama.”

Acara yang dikoordinasikan oleh Ir. H. M. Endang Hasanuddin dan Ust. Azis Abdullah ini ditutup dengan doa bersama, membawa harapan agar masyarakat Sumedang tetap harmonis dan mampu mempraktikkan “seni memaafkan” yang sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari.***