BIROKRASI

Tuti Ruswati dan Api Kartini: Mendobrak Batas, Membangun Peradaban di Kaki Tampomas

×

Tuti Ruswati dan Api Kartini: Mendobrak Batas, Membangun Peradaban di Kaki Tampomas

Sebarkan artikel ini

SUMEDANG, KAPOL.ID – Peringatan Hari Kartini setiap tanggal 21 April bukan sekadar seremoni kebaya dan sanggul. Di balik simbolisme tersebut, ada api perjuangan intelektual yang menuntut emansipasi melalui jalur pendidikan dan pengabdian nyata.

Di Kabupaten Sumedang, semangat itu menemukan bentuk modernnya melalui tata kelola pemerintahan yang inklusif dan progresif.

Salah satu potret keberhasilan emansipasi di lingkungan birokrasi “Bumi Simpati” terlihat pada sosok Dr. Hj. Tuti Ruswati, S.Sos., M.Si. Sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) perempuan pertama dalam sejarah Sumedang yang dilantik definitif pada 7 Agustus 2024, kehadirannya menjadi bukti objektif bahwa kapasitas kepemimpinan di sektor publik kini murni berpijak pada kompetensi, bukan lagi batasan gender.

Jika dahulu Kartini menggunakan pena untuk mendobrak keterbatasan akses bagi perempuan, saat ini “senjata” yang digunakan adalah kebijakan publik yang berbasis data. Perjalanan karier Tuti Ruswati yang memuncak pada gelar Doktor Ilmu Pemerintahan dari IPDN dengan predikat Cumlaude (2025) memberikan pesan kuat: pendidikan tinggi tetap menjadi kunci utama bagi perempuan untuk duduk di meja pengambilan keputusan strategis.

Di bawah kendali administratifnya, Sumedang tidak hanya berkutat pada rutinitas birokrasi. Langkah-langkah strategis seperti percepatan penurunan stunting dan akselerasi transformasi digital menjadi bukti bahwa sentuhan kepemimpinan perempuan mampu memadukan ketegasan manajerial dengan kepekaan sosial yang tinggi.

Mengenang sosok Ibu Kita Kartini, izinkan penulis menyisipkan sebait refleksi melalui puisi:

KARTINI MASA KINI
Melanjutkan Langkah di Bumi Simpati

Di tanah Sumedang, di kaki Gunung Tampomas yang megah,
Derap langkah penuh percaya diri di lorong-lorong kantor,
Bukan lagi surat yang dikirim ke negeri seberang,
Namun kebijakan nyata, untuk rakyat yang kini memandang.

Di tangan para pemegang kemudi,
Birokrasi ditata dengan hati dan budi,
Menjaga amanah di atas pundak yang kokoh,
Agar sejarah peradaban tak akan pernah roboh.

Dari semangat masa lalu ke meja birokrasi,
Inspirasi menyala, menyalakan dedikasi,
Bahwa perempuan adalah tiang peradaban,
Membawa perubahan di tengah derap zaman.

Hal yang menarik dari kepemimpinan Tuti Ruswati adalah kemampuannya menyelaraskan modernitas dengan kearifan lokal.

Di tengah arus digitalisasi pemerintahan yang serba cepat, ia tetap menekankan pentingnya nilai-nilai humanis dan etika birokrasi yang berakar pada budaya Sumedang.

Ini sejatinya adalah cita-cita besar Kartini yang sering terlupakan: menjadi sosok yang maju secara pemikiran namun tetap menghormati identitas dan budayanya sendiri.

Mengenang Kartini di era sekarang berarti melihat bagaimana ruang-ruang publik diisi oleh sosok-sosok profesional yang berdedikasi.

Di gedung-gedung pemerintahan Sumedang, kita melihat bahwa semangat untuk menyejahterakan masyarakat luas terus hidup melalui tangan-tangan terampil yang bekerja dengan kecerdasan dan integritas.***