KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Gubernur Jawa Barat yang akrab dipanggil KDM atau Bapa “Aing”, Dedi Mulyadi, akhirnya mengambil langkah tegas untuk menyudahi kegaduhan di media sosial terkait sumber dana bonus sebesar Rp 1 miliar yang ia gelontorkan kepada Persib Bandung.
Langkah klarifikasi ini diambil setelah muncul tuduhan liar bin tak berdasar dari akun media sosial dodipermana2114 yang mencoba menggiring opini bahwa bonus tersebut berasal dari aliran dana yang tidak sah.
Dalam video klarifikasi yang diunggahnya, Gubernur Jabar yang dikenal merakyat ini membedah secara transparan asal-usul uang tersebut, sekaligus mematahkan spekulasi negatif yang sengaja dihembuskan pihak-pihak tak bertanggung jawab.
Ia menegaskan bahwa total Rp1 miliar yang diberikan kepada tim berjuluk Pangeran Biru itu murni berasal dari jerih payah dan kantong pribadinya.
“Saya ingin memberikan klarifikasi agar isu ini tidak menjadi fitnah yang berkepanjangan. Sebanyak Rp 800 juta bersumber dari tabungan pribadi saya di Bank Jabar Banten (BJB), yang merupakan akumulasi penghasilan harian ditambah hasil penjualan sapi. Sementara Rp 200 juta sisanya adalah uang tunai pribadi yang saya bawa langsung dari rumah,” tegas KDM melalui unggahan media sosialnya, Jumat (5/6).
Guna menepis segala tuduhan miring dan membungkam para “pabrik hoaks”, Bapa “Aing” melontarkan tantangan terbuka bagi pihak-pihak yang meragukan integritasnya.
Ia mempersilakan siapa pun yang menuduhnya untuk menelusuri atau memeriksa rekening pribadinya di BJB. Langkah transparan ini menjadi tamparan keras bagi para penyebar fitnah yang hanya bermodalkan jempol dan asumsi kosong tanpa data.
Meski diterpa fitnah yang keji, Gubernur Jabar ini justru memilih untuk menanggapi para penyebar hoaks dengan sikap yang sangat tenang dan santai.
Alih-alih langsung menyeret mereka ke jalur hukum, KDM justru memilih jalan kedewasaan dengan memaafkan mereka sebuah sindiran halus bagi mereka yang menggantungkan hidup dari menjatuhkan reputasi orang lain.
“Saya memaafkan mereka. Mungkin itu adalah bagian dari pekerjaan mereka sehari-hari. Jika tidak menyerang saya, mungkin mereka akan kehilangan pekerjaan,” ungkap KDM dengan nada tenang namun sarat akan satire mendalam.
Sebagai orang nomor satu di Jawa Barat saat ini, munculnya isu miring terhadap KDM sebenarnya merupakan potret usang dari dinamika politik yang tidak sehat.
Serangan yang mempertanyakan integritas kerap menjadi risiko bagi figur publik yang berada di posisi strategis. Namun, menyerang secara personal dengan menyebarkan kebohongan publik adalah tindakan pengecut yang mencederai alam demokrasi.
Di satu sisi, kebebasan berpendapat adalah hak asasi yang dijamin dan dilindungi oleh Undang-Undang.
Masyarakat memiliki ruang luas untuk mengkritisi setiap gerak-gerik jalannya pemerintahan. Namun demikian, kebebasan tersebut sejatinya harus tetap berpijak pada koridor kebenaran dan data yang valid, bukan sekadar memproduksi narasi kebencian.
Narasi yang dibangun berdasarkan asumsi tanpa bukti, apalagi jika berujung pada penyebaran hoaks, bukanlah bentuk partisipasi demokrasi yang sehat. Itu adalah fitnah jalanan yang merusak akal sehat publik dan meracuni ruang digital.
Klarifikasi dari Gubernur Jabar KDM ini diharapkan menjadi edukasi mahal bagi masyarakat agar lebih kritis dan bijak dalam menyerap informasi.
Ini sekaligus menjadi pengingat keras bagi para provokator di media sosial bahwa kebebasan bersuara harus dibarengi dengan tanggung jawab etika dan hukum, sebelum jempol mereka sendiri yang akhirnya menyeret mereka ke balik jeruji besi. ***












