KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Menjelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di Kabupaten Sumedang pada November 2026, atmosfer politik di Kecamatan Conggeang kian menghangat. Di tengah dinamika tersebut, sosok Miftahul Rakhmat, S.Pd., muncul sebagai figur sentral yang menjadi buah bibir masyarakat Desa Karanglayung.
Pria yang akrab disapa “Akang” ini bukan sekadar pendatang baru. Rekam jejaknya sebagai Ketua Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) di tingkat kecamatan menjadi legitimasi kuat yang memicu optimisme warga akan adanya perubahan substansial bagi masa depan desa Karanglayung .
Modal Pengalaman: Mengubah Potensi Menjadi Aksi
Bagi masyarakat Karanglayung, kepemimpinan bukan lagi soal wacana, melainkan tentang kapasitas teknis. Pengalaman Miftah dalam mengelola program pemberdayaan masyarakat dinilai sebagai modal krusial.
Ia dianggap memahami betul cara menerjemahkan potensi sumber daya desa menjadi manfaat ekonomi nyata.
”Kami sudah lelah dengan janji-janji manis. Namun, melihat kiprah Akang Miftah di PNPM selama ini, kami melihat ada kapasitas teknis yang nyata. Ia sangat paham bagaimana mengelola anggaran dan menggerakkan komunitas,” ungkap salah seorang warga yang mewakili aspirasi masyarakat setempat.
Menangkap Peluang di Balik Bendungan Cipanas
Narasi perubahan yang diusung oleh pria yang dikenal merakyat ini dinilai sangat tepat sasaran. Fokus utamanya adalah optimalisasi posisi strategis Desa Karanglayung yang berhimpitan langsung dengan Bendungan Cipanas.
Warga meyakini, bendungan tersebut adalah “harta karun” yang selama ini belum tergarap maksimal. Di tangan Miftah, transformasi desa menjadi destinasi wisata unggulan bukan lagi dianggap sebagai mimpi, melainkan target yang realistis.
Harapan besar disematkan agar Karanglayung dapat bertransformasi menjadi episentrum ekonomi baru yang mampu menekan angka pengangguran dan mendongkrak Pendapatan Asli Desa (PADes).
Dalam berbagai diskusi dengan elemen masyarakat, Miftahul Rakhmat menawarkan cetak biru pembangunan yang terukur melalui tiga pilar utama yang kini menjadi perbincangan hangat di forum-forum warga:
Ekosistem Ekonomi Kreatif: Rencana inkubasi produk lokal dan jasa ekowisata untuk menghidupkan kembali kearifan lokal.
*Infrastruktur Berorientasi Wisata:* Pembangunan fasilitas penunjang yang fungsional, megah, dan berkelanjutan untuk kenyamanan wisatawan.
Tata Kelola Partisipatif: Sistem pemerintahan desa yang inklusif dan transparan, berlandaskan pengalaman manajerialnya yang matang.
Bagi warga Karanglayung, Pilkades mendatang bukan sekadar kontestasi politik, melainkan momentum krusial untuk menentukan arah masa depan. Mereka mendambakan pemimpin dengan napas panjang yang mampu bekerja secara profesional.
”Kami membutuhkan pemimpin yang bekerja dengan data, bukan sekadar kata-kata. Sosok Akang Miftah yang berlatar belakang intelektual namun tetap membumi ini adalah apa yang kami butuhkan untuk membawa Karanglayung keluar dari zona nyaman,” tegas warga lainnya.
Kini, dukungan terhadap Miftahul Rakhmat kian mengkristal. Harapan besar disematkan di pundaknya untuk membawa Karanglayung tidak sekadar menjadi penonton di rumah sendiri, melainkan menjadi pemain utama dalam pesatnya geliat pembangunan di wilayah Sumedang.***






