KABAR PRIANGAN ONLINE – Pelataran Gedung Negara Sumedang mendadak berubah menjadi lautan kreativitas dan kebersamaan yang tiada duanya. Ratusan pria bernama “Asep” dari berbagai penjuru Jawa Barat berkumpul jadi satu untuk merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-10 Komunitas Asep Asep (KAA), pada Minggu (19/7).
Satu dekade berdiri, komunitas ini membuktikan bahwa sebuah nama lokal yang sarat filosofi Sunda mampu menjadi perekat solidaritas yang begitu kuat di era modern. Dari Karawang yang industri, Bekasi yang metropolitan, Purwakarta yang eksotis, hingga Cianjur yang sejuk, semua melebur tanpa sekat demi sebuah persaudaraan.
Silaturahmi Lintas Wilayah, Kompak “Ngahaleuang” Lagu Sunda
Pantauan di lokasi, kemeriahan acara sudah terasa sejak pagi. Perwakilan Asep dari berbagai penjuru Jawa Barat tampak hadir menembus batas teritorial. Bukan sekadar kumpul-kumpul biasa, perayaan ini diisi dengan panggung hiburan karaoke yang menjadi ajang unjuk gigi bakat terpendam para Asep.
Secara bergantian, perwakilan tiap daerah naik ke atas panggung menyumbangkan lagu-lagu Sunda. Suasana berubah menjadi penuh kehangatan saat alunan musik tradisional yang dikemas modern menggema, memancing riuh tepuk tangan dan joget bersama dari para pemilik nama yang sama ini.
“Sora mah nomer dua, nu penting mah tarik jeung cengkokna asup! Da lamun salah nada ogé, moal aya nu wani nyarékan, da sarua ngaranna Asep,” ceuk salah sahiji penonton bari seuri konéng.
Kehadiran “BUAS” yang Bikin Suasana Makin Pecah
Keseruan acara tidak berhenti di situ. Kemeriahan justru semakin memuncak dengan kehadiran kelompok “BUAS”, yang merupakan singkatan kreatif dari Ibu-Ibu Asep (para istri dari anggota komunitas). Kehadiran pasukan “BUAS” ini sukses mengocok perut dan menghibur para hadirin.
“Tah, lamun para Asep geus mimiti poho waktu gara-gara emak-emak BUAS geus turun tangan, dijamin para Asep langsung nurut, moal wani ngabantah. Sakali BUAS ngagorowok nyepeng mikrofon, Asep sa-Jawa Barat langsung tiis ceuli heran deuleu, bisi teu dibéré jatah kopi di imah!” seloroh salah satu pengunjung di lokasi yang disambut tawa renyah.
Uniknya, situasi kocak kerap terjadi selama acara berlangsung. Ketika pembawa acara memanggil nama “Kang Asep” untuk naik ke panggung, puluhan orang sontak menengok dan meraba saku celananya masing-masing karena mengira dipanggil, yang langsung mengundang gelak tawa di pelataran Gedung Negara.
Di balik balutan humor dan keseruannya, HUT ke-10 Komunitas Asep Asep ini membawa misi budaya yang mendalam. Di tengah gempuran nama-nama modern, nama “Asep” kini menjadi simbol kebanggaan identitas urang Sunda.
Melalui lagu-lagu Sunda yang dinyanyikan dan silaturahmi yang terus dirawat, komunitas ini mengirimkan pesan kuat tentang pentingnya menjaga akar budaya lokal.
Acara satu dekade ini sukses membuktikan filosofi hidup masyarakat Jawa Barat: Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh semuanya tercermin nyata dari senyum kompak para Asep yang pulang membawa sejuta cerita dan persaudaraan nu euweuh tungtungna!***












