KANAL

Mukjizat Azan Asar: Puluhan Petani Kampung Naga Selamat dari Maut Sebelum Longsor Menimbun Sawah

×

Mukjizat Azan Asar: Puluhan Petani Kampung Naga Selamat dari Maut Sebelum Longsor Menimbun Sawah

Sebarkan artikel ini

KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Suasana sore yang tenang di kawasan objek wisata adat Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, mendadak berubah mencekam pada Minggu sore. Sebuah tebing dilaporkan ambrol dan terekam jelas oleh kamera ponsel warga setempat.

​Dalam video amatir berdurasi singkat yang beredar, detik-detik pergerakan tanah dan pepohonan besar yang bertumbangan terlihat sangat mengerikan. Di tengah gemuruh runtuhnya tanah, terdengar lamat-lamat suara seorang bapak yang terus melantunkan selawat dengan nada bergetar.

Suasana kian dramatis saat pekik histeris seorang ibu memanggil-manggil anaknya yang tengah ngurek (mencari belut) memecah keheningan sore itu.

​Rekaman mencekam tersebut diambil oleh Diki, warga setempat yang saat kejadian kebetulan sedang berada di pematang sawah, persis di depan lokasi tebing yang ambrol.

​”Awalnya saya aneh melihat pepohonan seperti pohon kelapa dan petai bergoyang-goyang sendiri. Padahal waktu itu tidak ada angin besar,” ujar Diki

​Merasa ada yang tidak beres, Diki refleks menyalakan kamera ponselnya. Benar saja, hanya berselang hitungan detik, tebing tanah di hadapannya ambruk dan bergerak cepat bak air bah, langsung menggulung dan menimbun area persawahan yang ada di bawahnya.

​Bencana tanah longsor ini nyaris saja memicu tragedi kemanusiaan dan menelan banyak korban jiwa. Beruntung, ada “mukjizat” di balik waktu kejadian.

​Menurut Kepala Dusun Kampung Naga, Bah Otoy, sekitar 45 menit sebelum petaka itu datang atau sekitar pukul 15.00 WIB lahan persawahan yang kini rata dengan tanah itu sebenarnya masih dipenuhi oleh aktivitas warga yang sedang tandur (menanam padi).

​”Di lokasi itu tadinya banyak ibu-ibu yang sedang tandur dan ngaberak (memupuk). Saya sendiri waktu itu lagi membetulkan saluran air ke sawah. Malah ada anak-anak juga yang sedang ngurek mencari belut,” tutur Bah Otoy dengan raut wajah masih syok.

​Namun, karena kumandang azan Asar menggema, lanjut Bah Otoy, para petani dan anak-anak tersebut memilih menyudahi aktivitasnya dan bergegas pulang untuk menunaikan ibadah. Tak lama setelah mereka bubar, tepatnya pukul 15.45 WIB, tebing tersebut runtuh total.

​Bah Otoy sendiri mengaku baru saja keluar dari masjid usai melaksanakan salat Asar berjamaah ketika mendengar teriakan histeris warga. Begitu ia berlari menuju lokasi, pemandangan hijau persawahan sudah berubah menjadi hamparan tanah merah bercampur tumbangan pohon-pohon besar.

​Meski dipastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa mengerikan ini, kerugian materiil yang dialami warga adat Kampung Naga terbilang cukup besar.

​Berdasarkan pendataan sementara di lapangan, luas lahan persawahan subur yang kini tertimbun material longsor mencapai 2,5 hektar.

​”Kalau dihitung jumlahnya ada sekitar 35 kotak sawah milik 8 orang warga Kampung Naga. Semuanya baru saja ditanami benih padi, malah ada yang baru beres ditanami tadi siang pisan. Ludes semua,” pungkas Bah Otoy

​Hingga berita ini diturunkan, warga dibantu aparat setempat masih bersiaga di sekitar lokasi guna mengantisipasi adanya pergerakan tanah susulan, mengingat curah hujan di kawasan Salawu masih fluktuatif. (Adji Shg)