KANAL

Sawah Mangkrak Jadi Berkah, Kades Tenjonagara Sukses Sulap Lahan Kering Jadi Kebun Jagung

×

Sawah Mangkrak Jadi Berkah, Kades Tenjonagara Sukses Sulap Lahan Kering Jadi Kebun Jagung

Sebarkan artikel ini

KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Puluhan hektare lahan pertanian di Desa Tenjonagara, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, sempat mangkrak dan tak memberikan manfaat bagi para pemiliknya selama bertahun-tahun.

Mampetnya saluran irigasi menuju area pesawahan menjadi pemantik utama matinya sektor pertanian di wilayah tersebut.
​Dampak domino pun tak terelakkan. Angka pengangguran melonjak, daya beli masyarakat merosot tajam, hingga perekonomian warga berada di titik terendah. Bahkan, persoalan ini berimbas serius pada penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) desa.

​”Dampak yang paling terasa dan sering bikin kelabakan itu pada pembayaran PBB. Penurunannya mencapai 70 persen,” ungkap Kepala Desa Tenjonagara, Heri, saat berbincang di kediamannya.

​Untuk menutup kekurangan target pajak tersebut, tak jarang pihak pemerintah desa harus turun tangan dan memutar otak guna menutupi sisa pembayaran.

​Melihat kondisi yang kian memprihatinkan, Heri berinisiatif mencari terobosan. Ia melihat peluang pada budi daya tanaman jagung yang relatif hemat air dan cocok dengan karakteristik lahan kering bekas sawah tadah hujan.

​”Kami memilih jagung karena tidak membutuhkan banyak air. Lahan-lahan yang sudah lama mangkrak ini sangat potensial jika dimanfaatkan untuk menanam jagung,” jelasnya.

​Langkah tersebut kemudian ia sosialisasikan kepada para pemilik lahan. Pada masa tanam awal, pergerakan dimulai dari lahan seluas satu hektare. Hasil panen perdana yang menggembirakan rupanya berhasil memikat minat warga lainnya.

​Kini, setelah dua tahun berjalan, luas perintisan budi daya jagung di Desa Tenjonagara telah melonjak signifikan hingga mencapai delapan hektare.

​Menariknya, seluruh permodalan untuk pengelolaan lahan delapan hektare tersebut murni bersumber dari kantong pribadi Heri, tanpa menyentuh separuh pun dana desa.

​”Walaupun saya menjabat sebagai kepala desa, modal untuk usaha ini sepeser pun bukan dari anggaran desa,” tegas Heri.

​Langkah mandiri sang kades ini terbukti mampu menggerakkan roda perekonomian lokal. Sektor budi daya jagung tersebut kini menjelma menjadi lapangan kerja baru bagi warga sekitar.

​”Kalau sedang musim kerja, mulai dari menanam, merawat, panen, sampai penjemuran, bisa menyerap sekitar 45 hingga 50 tenaga kerja,” tuturnya.

​Dari sisi produktivitas, setiap satu hektare lahan rata-rata mampu menghasilkan 4 hingga 5 ton jagung kering dalam satu kali siklus panen.

​”Alhamdulillah, hasil panen per hektare berkisar 4–5 ton jagung kering. Untuk harga memang fluktuatif, mengikuti ketentuan dari Bulog,” pungkas Heri (Adji Shg)