KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Penanganan sampah yang akut serta percepatan transformasi digital menjadi dua mata panah agenda strategis yang bakal terus digenjot Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung. Langkah ini ditempuh demi merajut masa depan kota yang jauh lebih maju, bersih, dan berkelanjutan.
Komitmen tersebut ditegaskan langsung oleh Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, di sela-sela Upacara Peringatan Hari Jadi ke-216 Kota Bandung (HJKB) yang digelar khidmat di Plaza Balai Kota Bandung, Jumat (25/9/2026).
Di hadapan peserta upacara, Farhan blak-blakan menyebut bahwa tantangan terbesar Kota Kembang hari ini bukan sekadar urusan fisik pembangunan infrastruktur semata. Lebih dari itu, bagaimana meramu wajah kota agar senantiasa bersih, sehat, serta didukung tata kelola pemerintahan yang modern.
”Tantangan pertama adalah ekologi dan lingkungan. Penanganan sampah masih merupakan tantangan yang besar bagi kita semuanya,” cetus Farhan.
Orang nomor satu di Kota Bandung ini mengingatkan, ikhtiar merampungkan persoalan sampah tak akan pernah efektif jika tidak dimulai dari akarnya: tingkat rumah tangga dan kesadaran lingkungan masyarakat.
Atas dasar itulah, Pemkot Bandung memilih untuk memperketat dan memperkuat pelbagai program pengelolaan sampah berbasis kewilayahan. Salah satu yang diandalkan saat ini adalah Gerakan Bandung Selatan Mengolah Sampah Mandiri (Gaslah). Program ini menuntut partisipasi aktif warga untuk memilah dan mengolah sampah sejak dari sumbernya.
Gerakan tersebut dipastikan tidak jalan di tempat. Pemkot Bandung siap mengaktivasikannya secara masif melalui penyediaan infrastruktur pengolahan sampah organik di seluruh penjuru wilayah.
”Program Gaslah akan disusul dengan penyediaan kompos di seluruh RT di Kota Bandung sebanyak hampir mendekati 10.000 titik,” beber Farhan.
Bagi Pemkot, strategi jemput bola ini menjadi fondasi kunci guna menuntaskan benang kusut sampah dari hulu, jauh sebelum limbah-limbah tersebut masuk ke sistem pengangkutan hingga tempat pembuangan akhir.
Kendati demikian, pendekatan kultural berbasis masyarakat ini tetap dikawinkan dengan sentuhan inovasi teknologi. Mulai dari mesin pengolahan organik modern, teknologi termal, hingga teknologi Solid Recovered Fuel (SRF) yang saat ini tengah dimatangkan sinerginya bersama pemerintah pusat.
Bergerak seirama dengan pembenahan lingkungan, roda pemerintahan kota modern juga menuntut transparansi serta kemudahan akses bagi warganya.
Momentum HJKB ke-216 ini, Pemkot Bandung resmi meluncurkan aplikasi Halo Bandung. Sebuah terobosan super app yang sengaja dirancang untuk merangkum dan mengintegrasikan seluruh pelbagai layanan publik ke dalam satu genggaman platform tunggal.
”Melalui aplikasi ini kita dapat mengakses berbagai informasi dan layanan untuk warga Kota Bandung dalam satu platform,” ucapnya antusias.
Farhan menggarisbawahi, Halo Bandung dibikin khusus agar warga bisa menikmati pelayanan birokrasi yang jauh lebih cepat, responsif, transparan, serta akuntabel.
Warga tak perlu lagi dipusingkan dengan urusan birokrasi berbelit atau harus berpindah-pindah aplikasi karena semuanya sudah diringkas menjadi simpel dan efisien.
”Halo Bandung adalah upaya untuk membangun pemerintahan yang responsif, terbuka, accountable, dan transparan,” imbuhnya
Menutup pidatonya, Farhan meyakini bahwa merampungkan PR lingkungan hidup dan suksesnya transformasi digital adalah dua pilar sakral demi mewujudkan Bandung sebagai kota yang unggul, terbuka, amanah, maju, serta agamis.
Ia pun mengajak seluruh elemen mulai dari jajaran pemerintah, komunitas, kaum akademisi, hingga dunia usaha untuk merapatkan barisan mempercepat visi Bandung yang nyaman dan berkelanjutan.
”Solidarity in Harmony harus menjadi semangat bersama untuk menjaga, merawat, dan membangun Kota Bandung,” pungkasnya. (JM)












