KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Musyawarah Wilayah (Muswil) IX Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Wilayah 15 Kota Tasikmalaya digelar di Saung Baraya, Kota Tasikmalaya, Minggu (4/10/2026).
Muswil mengusung tema “Melalui Musyawarah Wilayah IX RAPI Wilayah 15 Kota Tasikmalaya Tahun 2026, Kita Tingkatkan Solidaritas Organisasi yang Mandiri, Kreatif dan Adaptif.”
Forum tersebut diikuti perwakilan lima lokal RAPI se-Kota Tasikmalaya serta jajaran pengurus RAPI Daerah 10 Jawa Barat dan sejumlah undangan dari unsur pemerintah daerah, BPBD, kepolisian serta organisasi komunikasi lainnya.
Ketua RAPI Wilayah 15 Kota Tasikmalaya periode 2022-2026, Agus Nugraha, mengatakan muswil tidak semata menjadi forum pertanggungjawaban pengurus maupun memilih ketua baru.
Menurutnya, momentum tersebut harus menjadi bahan evaluasi sekaligus pijakan untuk memperkuat organisasi agar mampu menjawab tantangan komunikasi masyarakat yang terus berkembang.
“Jangan hanya untuk meminta pertanggungjawaban ketua atau memilih ketua baru. Mudah-mudahan musyawarah ini menjadi refleksi untuk melihat bagaimana organisasi ke depan,” ujarnya.
Ia mengakui perkembangan teknologi komunikasi menjadi tantangan tersendiri bagi RAPI. Namun, hingga kini sekitar 150 anggota di Kota Tasikmalaya masih aktif menggunakan radio komunikasi.
Menurut Agus, keberadaan anggota tersebut menjadi modal penting untuk mempertahankan eksistensi RAPI sekaligus memperkuat perannya di tengah masyarakat.
“Terima kasih kepada teman-teman yang sampai hari ini masih setia dengan hobi radio analog. Kita memang bersaing dengan alat komunikasi lain, tetapi kita tetap bersahabat dan terus menjaga keberadaan RAPI,” katanya.
Agus juga menyampaikan permohonan maaf atas berbagai kekurangan selama memimpin RAPI Wilayah 15 Kota Tasikmalaya.
Ia berharap kepengurusan baru nantinya mampu membawa penyegaran melalui program-program yang semakin bermanfaat bagi masyarakat.
Sementara itu, Ketua RAPI Daerah 10 Jawa Barat, Yaya Dachyarna, SE (JZ10BJY), menilai RAPI Kota Tasikmalaya selama ini cukup aktif menjalankan berbagai program organisasi.
Ia menegaskan, salah satu kekuatan RAPI adalah perannya dalam mendukung penanganan kebencanaan.
“RAPI itu tidak ada apa-apanya, tapi RAPI ada apa-apanya kalau ada kebencanaan. Insyaallah RAPI paling terdepan tanpa disuruh, tanpa diperintah,” tegasnya.
Yaya mengatakan RAPI merupakan bagian dari cadangan komunikasi nasional. Karena itu, keberadaan organisasi tersebut harus terus dijaga dan dikembangkan, terutama dalam mendukung komunikasi saat terjadi kondisi darurat.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga solidaritas dan menghindari konflik internal yang dapat mengganggu komunikasi organisasi.
Menurutnya, perbedaan pendapat dalam musyawarah merupakan hal biasa, namun jangan sampai berkembang menjadi ketidakharmonisan setelah musyawarah selesai.
“Siapapun yang terpilih nanti adalah anggota terbaik Kota Tasikmalaya. Pilih ketua yang mampu meningkatkan produktivitas organisasi, mengayomi dan menyatukan anggota,” katanya.
Yaya juga menegaskan sikap RAPI yang independen dan tidak berafiliasi dengan partai politik tertentu.
Menurutnya, organisasi harus tetap menjaga independensi, sementara setiap anggota secara pribadi memiliki hak politik masing-masing.
“Bendera kami tidak diconongkan ke satu partai. Anggota silakan menentukan pilihan masing-masing. Yang penting organisasi tetap independen,” ujarnya.
Ia berharap kepemimpinan baru dapat melanjutkan program yang telah berjalan sekaligus menghadirkan terobosan baru bagi RAPI Kota Tasikmalaya.
Sementara itu, penasehat RAPI Muhammad Yusuf menilai peran organisasi dalam sejarah Kota Tasikmalaya juga tidak dapat dipandang sebelah mata.
Ia mengungkapkan pengalaman saat terjadi kerusuhan di Kota Tasikmalaya pada 1996. Saat itu, anggota RAPI ikut membantu aparat melalui komunikasi dan pemantauan situasi di lapangan.
“Waktu kerusuhan di Kota Tasik tahun 1996, RAPI berperan sangat penting. Kami terus berkomunikasi dan memantau orang-orang dari daerah yang datang ke Kota Tasikmalaya,” ungkapnya.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa jaringan komunikasi RAPI dapat dimanfaatkan untuk membantu pemerintah maupun aparat dalam menghadapi situasi darurat.
Ia berharap peran tersebut terus dipertahankan, tanpa menghilangkan karakter RAPI sebagai organisasi sosial dan komunikasi yang independen
Muswil IX RAPI Wilayah 15 Kota Tasikmalaya selanjutnya diharapkan menghasilkan kepengurusan yang solid serta program kerja yang mampu memperkuat pelayanan komunikasi kepada masyarakat.
Semangat organisasi pun tetap berpegang pada semboyan RAPI: “Rukun di Udara, Akrab di Darat, Iman di Hati.” (JM)







