KAPOL.ID – Keterbatasan komputer menjadi kendala SMAN 8 Bandung dalam melaksanakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi 439 siswa kelas XII. Sekolah harus membagi pelaksanaan ujian ke dalam dua gelombang dengan tiga sesi setiap harinya.
Dengan hanya mengandalkan dua laboratorium komputer berkapasitas masing-masing 40 unit, SMAN 8 Bandung hanya mampu melayani 80 peserta dalam satu sesi. Penambahan perangkat pun menjadi kebutuhan mendesak agar pelaksanaan TKA ke depan lebih efisien
Kepala SMAN 8 Bandung, Yudin Wahyudin, mengatakan pola pelaksanaan TKA tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Namun, keterbatasan sarana masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian.
“Kalau ingin satu gelombang, minimal tersedia 160 unit komputer. Sementara yang ada sekarang baru 80 unit. Jadi, kami masih membutuhkan sekitar 80 unit lagi atau dua laboratorium tambahan,” ujar Yudin saat ditemui di ruang kerjanya, Jalan Solontongan No. 3, Kota Bandung, Senin (26/10/2026).
Menurutnya, penambahan komputer akan memangkas waktu pelaksanaan ujian. Saat ini, satu gelombang membutuhkan empat hari sehingga dua gelombang harus berlangsung selama delapan hari.
Yudin berharap pemerintah dapat mendukung pemenuhan sarana komputer agar pelaksanaan TKA tahun mendatang lebih efektif.
“Kalau sarana dan prasarananya memadai, pelaksanaan dalam satu gelombang tentu akan lebih baik,” katanya.
Di sisi lain, sekolah telah menyiapkan siswa sejak awal memasuki kelas XII. Latihan TKA diberikan sejak awal pembelajaran, mencakup mata pelajaran wajib dan pilihan.
Tiga mata pelajaran wajib yang diujikan yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika. Adapun dua mata pelajaran pilihan disesuaikan dengan pilihan masing-masing siswa.
Persiapan lebih awal tersebut diharapkan mampu mendongkrak capaian akademik siswa dibandingkan tahun sebelumnya.
Hari Pertama Berjalan Lancar
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 8 Bandung, Neni Juniawati, mengatakan TKA tahun ini merupakan pelaksanaan tahun kedua.
Gelombang pertama berlangsung pada 26–29 Oktober 2026, sedangkan gelombang kedua dijadwalkan pada 2–5 November 2026.
Pada hari pertama, siswa mengerjakan soal Bahasa Indonesia, dilanjutkan Bahasa Inggris, Matematika, dan mata pelajaran pilihan sesuai jadwal.
“Untuk hari pertama Bahasa Indonesia, besok Bahasa Inggris, kemudian Matematika, lalu mata pelajaran pilihan. Selain TKA, ada juga Asesmen Nasional yang lebih menitikberatkan pada karakter siswa,” ujar Neni.
Ia bersyukur pelaksanaan hari pertama berjalan lancar hingga sesi ketiga. Meski demikian, sejumlah kendala sempat ditemukan saat gladi bersih atau simulasi ujian.
Salah satunya gangguan koneksi internet ketika mengakses Zoom penyelia. Namun, kendala tersebut tidak sampai mengganggu keseluruhan pelaksanaan ujian.
TKA dilaksanakan secara daring dengan dukungan teknisi dan proktor sekolah. Untuk pengawasan, delapan petugas dari SMAN 22 Bandung ditugaskan secara bergiliran selama dua gelombang.
Setiap hari, empat pengawas bertugas sesuai pembagian ruang yang ditentukan melalui aplikasi.
Pelaksanaan ujian dibagi menjadi tiga sesi, yakni pukul 07.00–08.45 WIB, 09.30–11.15 WIB, dan 12.00–13.45 WIB.
Untuk memenuhi kebutuhan peserta, sekolah tidak hanya mengandalkan komputer laboratorium, tetapi juga memanfaatkan Chromebook. Laptop bagi pengawas serta perangkat cadangan turut disiapkan untuk mengantisipasi kendala teknis.
Neni mengakui, keterbatasan perangkat membuat sekolah harus mengatur jadwal sedemikian rupa agar seluruh peserta dapat mengikuti ujian sesuai ketentuan.
“Kalau memungkinkan, kami lebih mendukung pelaksanaan dalam satu gelombang dengan jumlah sesi yang lebih sedikit. Namun, kendalanya memang ada pada keterbatasan sarana,” katanya.
Pada hari pertama, seluruh siswa yang terjadwal mengikuti ujian hadir. Jika ada siswa yang berhalangan pada jadwal utama, sekolah akan menyiapkan ujian susulan sesuai ketentuan serta melengkapi berita acara.
Pihak sekolah berharap seluruh rangkaian TKA berjalan sesuai jadwal. Namun, kebutuhan tambahan komputer tetap menjadi catatan penting agar pelaksanaan ujian berikutnya lebih efektif, tanpa harus menghabiskan waktu hingga delapan hari. (JM)






