KAPOL.ID – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Jawa Barat pada Agustus 2026 tercatat sebesar 6,67 persen. Angka ini menunjukkan tren positif dengan adanya penurunan sebesar 0,10 persen poin jika dibandingkan dengan periode yang sama pada Agustus 2025 lalu yang berada di angka 6,77 persen.
Berdasarkan data BPS, TPT untuk kelompok laki-laki tercatat sebesar 6,79 persen, angka ini masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan TPT perempuan yang berada di angka 6,46 persen. Meski demikian, kedua kelompok tersebut sama-sama mengalami penurunan dibanding Agustus 2025, yakni laki-laki turun 0,13 persen poin dan perempuan turun 0,05 persen poin.
Jika ditinjau dari daerah tempat tinggal, pengangguran di kawasan perkotaan masih mendominasi dengan persentase 6,98 persen, lebih tinggi dibanding kawasan perdesaan yang tercatat sebesar 5,14 persen. Namun, angka pengangguran di perkotaan berhasil melandai sebesar 0,21 persen poin, sedangkan di kawasan perdesaan justru mengalami kenaikan sebesar 0,22 persen poin.
Sementara itu, jika dilihat dari tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan, pola TPT pada Agustus 2026 ini tidak jauh berbeda dengan kondisi pada Agustus 2025.
”Pada Agustus 2026, TPT dari tamatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih merupakan yang paling tinggi dibandingkan tamatan jenjang pendidikan lainnya, yaitu sebesar 12,19 persen,” ungkap Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, saat menggelar Rilis Berita Resmi Statistik di Kantor BPS Jabar, Kamis (5/11/2026).
Sebaliknya, angka pengangguran terendah berada pada kelompok penduduk berpendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah, yaitu sebesar 2,80 persen.
Adapun jika dibandingkan dengan Agustus 2025, kenaikan TPT cukup signifikan terlihat pada lulusan Diploma I/II/III sebesar 1,82 persen poin. Di sisi lain, penurunan TPT paling tinggi justru dicatatkan oleh lulusan SMK, yakni berkurang sebesar 0,62 persen poin.
Seiring melandainya angka pengangguran, jumlah penduduk yang bekerja di Jawa Barat kini mencapai 24,77 juta orang. Jumlah ini tumbuh sebanyak 0,26 juta orang dibandingkan Agustus 2025. Sektor Perdagangan Besar dan Eceran masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan total 5,71 juta orang atau menyumbang 23,04 persen.
Dari total penduduk bekerja tersebut, sebanyak 11,15 juta orang (45,02 persen) terserap di sektor kegiatan formal bertambah 0,11 juta orang. Sementara itu, sektor informal masih mendominasi dengan menampung sebanyak 13,62 juta orang (54,98 persen).
Mayoritas pekerja di Jawa Barat tercatat bekerja secara penuh (dengan durasi kerja minimal 35 jam per minggu), yakni mencapai 74,39 persen pada Agustus 2026. Sedangkan 25,61 persen sisanya tergolong sebagai pekerja tidak penuh. (JM)










