KAPOL.ID–Sepekan lalu KAPOL.ID melancong ke beberapa lokasi di wilayah Tasikmalaya selatan (Tasela). Sebuah pertanyaan dilontarkan terhadap masyarakat lokal, terkait rencana Daerah Otonom Baru (DOB) Tasela, atau pemekaran daerah.
Bagi sebagian warga Tasela, isu DOB Tasela hanya seksi setiap menjelang pemilihan umum (Pemilu), baik Pemilu Legislatif (Pileg) maupun Pemilu Kepala Daerah (Pilkada).
Misalnya Iping Zaeni, warga Kampung Ciheras, Cipatujah. Ia mengatakan bahwa isu DOB hanya menarik bagi kalangan tertentu. Seperti para politisi atau simpatisan yang aktif dalam perhelatan politik.
“Masyarakat umum mah relatif apatis. Mereka nggak peduli dengan rencana pemekaran daerah. Lagian itu cuma seksi menjelang pemilu saja,” ujar Iping kepada KAPOL.ID, Kamis (11/6/2020).
Saat dikonfirmasi kepada Sekretaris Presidium DOB Tasela, Asep Saepuloh, katanya anggapan tersebut sah-sah saja. Karena untuk Tasikmalaya wiyah selatan hot isunya memang masalah pemekaran. Siapa pun akan menggunakan itu.
“Asal dengan catatan. Pertama, yang menggunakan isu pemekaran itu mengerti visi tentang pemekaran. Arahnya ke mana? Kedua, ada langkah konkrit yang mereka lakukan dalam rangka membantu proses pemekaran ini,” ujar Asep kepada KAPOL.ID, Senin (15/6/2020).
Sebagai politisi, yang kini duduk di DPRD Kabupaten Tasikmalaya dari Partai Golkar, Asep tidak memungkiri kalau DOB atau pemekaran adalah bagian dari proses atau produk politis.
Yang Asep tidak harapkan adalah ketika isu DOB Tasela hanya dijadikan komoditas politik sesaat. Setelah itu tidak ada perjuangan apa-apa lagi.
“Prosesnya juga harus benar-benar mendidik. Saya rasa harus tersampaikan juga tentang prospek suatu daerah yang dimekarkan,” lanjut Asep.
Prospek yang dimaksud oleh Asep adalah soal desain 10 kecamatan yang akan menjadi wilayah DOB Tasela. Misalnya, Cipatujah akan seperti apa(?). Karangnunggal akan seperti apa(?). Begitu juga dengan daerah lainnya.











