Amandari Batik dan PLN Perkenalkan Inovasi Membatik

JAKARTA, (KAPOL).- Batik lebih dari sebuah kain, batik merupakan warisan dari pikiran besar para leluhur yang menggambarkan kebijaksanaan sebagai pedoman tentang cinta, kesabaran, kedamaian, dan kehidupan.

Berkaitan dengan hal tersebut, Gallery Amandari Batik bersama PLN menggelar acara bertajuk “The Story of Batik: Legacy, Investment, and Diplomacy”, di Magnolia Room Hotel Gran Mahakam Jakarta, pada Rabu, (14/12/2019).

“Mengapa batik?. Sebab Batik adalah karya produk yang menjadi ikon negara berskala nasional yang telah diakui dunia, sehingga kita wajib mengawal perkembangannya. Ada keindahan, keanggunan, dan komitmen untuk bercerita tentang kekayaan budaya kita lewat alur ulasannya,“ jelas Pelaksana Tugas (Plt) Dirut PLN, Sripeni Inten Cahyani.

Ada proses idealisme dalam membatik sebagai keagungan budaya bangsa Indonesia. Inilah legacy untuk generasi ke depan.

Untuk itu, pihaknya menghadirkan suatu trasformasi yaitu mengajak kaum millenial yang budayanya adalah serba instan, dapat tetap turut membatik dengan menggunakan kompor listrik dalam penggunaan dengan cantingnya yang efisiensinya bisa mencapai 63 persen.

Dalam acara ini akan ada dua sharing session. Pertama, untuk kalangan milenial di mana adanya transformasi dalam membatik, dan kedua tentang bagaimana membawa batik ke pasar global.

Pemilik Gallery Amandari Batik, Uti Rahardjo, mengatakan, batik sebagai jembatan komunikasi yang dipilih, karena sudah melekat pada semua kalangan.

Mulai sosialita, pengusaha, pemerhati budaya maupun fashionpreneur dengan jaringan internasional.

“Untuk itu kami mengundang mereka, yang concern dengan batik, dan fashionpreneur yang konsen dengan batik dan sudah berpengalaman di beberapa negara,” ungkapnya.

Kompor dan Canting Listrik

Batik memiliki tiga unsur yang terangkum dalam tema besar acara tersebut, yakni legacy, investment, dan diplomacy.

Tidak hanya hasil budaya, tetapi dari hasil proses pembuatannya, batik juga harus bisa berinovasi dan bertransformasi sehingga bisa terus dilestarikan.

Dinamika dunia ini berubah sungguh cepat, di mana harus ada adaptasi yang harus dilakukan, sehingga bisa sesuai dengan zamannya.

Pajak

Tetapi, dia juga tidak ingin batik sekadar printing, karena masih ada idealisme batik itu harus dibatik secara tradisional.

“PLN memiliki visi dan misi yang ingin memelihara legacy. Legacy-nya PLN adalah membuat sesuatu lebih praktis, bersih, dan aman,” tambah Uti Raharjo.

Maka dari itu,  alternatif atau transformasinya adalah membatik menggunakan dengan kompor listrik yang sepaket dengan canting listrik (elektrik). PLN memiliki alat inovasi membatik ini.

Dan, terkait dengan canting elektrik ini kelebihannya adalah pengrajin atau pembatik tidak perlu lagi untuk meniup cucuk canting sebelum menggoreskan motif.

Alhasil, proses dalam pembuatan pola lebih cepat selesai. Artinya, dengan alat yang inovatif tersebut, pengrajin tidak perlu lagi sibuk untuk mengecek tingkat panasnya. Sehingga pengrajin bisa lebih fokus membuat batik.

“Kalau lebih fokus, harapannya proses pembatikan bisa lebih cepat, dan secara ekonomis lebih naik,” harap Uti.

Batik dari segi investasi memiliki nilai cukup tinggi. Karena sebuah batik yang unik, seperti sebuah lukisan yang hanya ada satu di dunia, sebagai collectible investment.

Sebagai investasi lain, sekarang semua orang sudah mencintai batik, bahkan sudah banyak desainer luar memakai bahan batik sebagai bahan dasar desain mereka.

Di era digital seperti sekarang, pembatik bisa lebih mudah untuk bisa memasarkan batiknya ke luar negeri. Batik Amandari sendiri, setelah event ini, akan tetap menjalin kerja sama dengan PLN.

“Ini kan merupakan CSR dari PLN maupun Batik Amandari. Kami sebagai pengusaha juga memiliki kepedulian terhadap masyarakat yang ingin merepresentasi,” jelasnya.

Memang, antara Amandari Batik dan PLN akan menjadi hub untuk orang-orang yang ingin present bersama-sama.

Di zaman sekarang ini, tidak ada yang bisa melakukan sendirian, harus ada kerjasama  dan koaborasi atau yang dikenal sebagai collaborative intelligent. (KAPOL/rls)***

Diskusikan di Facebook