PARLEMENTARIA

Bedah Buku, Daddy Rohanady Ajak Generasi Muda Rajin Membaca dan Belajar dari Pengalaman

×

Bedah Buku, Daddy Rohanady Ajak Generasi Muda Rajin Membaca dan Belajar dari Pengalaman

Sebarkan artikel ini

KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Membaca dan belajar dari pengalaman generasi terdahulu menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk melanjutkan estafet pembangunan bangsa.

Pesan tersebut disampaikan penulis sekaligus Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat, Drs. Daddy Rohanady, dalam kegiatan bedah buku bertajuk “Bersama Literasi Mewujudkan Jabar Istimewa untuk Semua” di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusipda) Provinsi Jawa Barat, Jalan Kawaluyaan Indah II No. 4, Jatisari, Kecamatan Buahbatu, Kota Bandung, Selasa (15/9/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Daddy membedah dua buku yang ditulisnya. Meski sama-sama berkaitan dengan politik, kedua buku itu memiliki sudut pandang berbeda. Salah satunya lebih banyak mengulas pemerintahan dan pembangunan, sedangkan buku lainnya berkaitan dengan partai politik tempat dirinya bernaung.

Daddy mengatakan, buku tersebut tidak sekadar menjadi catatan perjalanan dirinya, tetapi juga diharapkan bisa menjadi bahan pembelajaran bagi generasi muda.

“Saya ingin generasi muda belajar dari mereka yang terdahulu. Kebetulan umur saya sudah 64 tahun. Apa yang saya miliki, apa yang saya tahu, setidaknya spiritnya diwarisi oleh generasi muda,” ujar Daddy.

Menurutnya, generasi muda harus menyadari bahwa mereka merupakan calon pemegang tongkat estafet bangsa. Tidak ada seorang pun yang bisa memastikan akan menjadi apa dirinya di masa depan.

Karena itu, Daddy menekankan pentingnya budaya membaca, terutama bagi mereka yang memilih profesi sebagai wartawan.

“Baca, baca dan baca. Apalagi wartawan. Wartawan kalau tidak baca, di mata saya tulisannya pasti kering. Tulisan pasti katanya itu lagi, itu lagi,” katanya.

Daddy mengaku, perjalanan hidupnya sendiri tidak pernah dirancang untuk menjadi anggota legislatif. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, justru satu hal yang tertanam dalam pikirannya adalah keinginan untuk bersekolah hingga ke Bandung.

Namun, perkembangan pendidikan di Jawa Barat saat ini membuat generasi muda tidak selalu harus pergi ke Bandung untuk mendapatkan pendidikan berkualitas.

“Sekarang di Cirebon sudah ada ITB. Ada Unpad juga. Jadi tidak harus pergi ke Bandung. Yang penting bagaimana anak-anak muda terus belajar,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Daddy juga menjelaskan alasan dirinya memilih bentuk puisi dan sajak dalam salah satu buku yang dibahas.

Menurutnya, puisi menjadi cara sederhana untuk menyampaikan gagasan, kritik maupun catatan terhadap berbagai persoalan pembangunan di Jawa Barat.

Berbagai sektor pembangunan dituangkannya dalam tulisan, mulai dari perhubungan, bina marga, lingkungan hidup, sumber daya mineral hingga persoalan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati.

“Kalau kita pakai bahasa yang rumit, disuruh baca anak-anak SMA, mereka harus menafsirkan sendiri. Saya ingin sederhana supaya poin-poinnya mudah dipahami,” tuturnya.

Daddy menyebut, tulisan-tulisan tersebut juga menjadi bentuk kritik terhadap kebijakan pembangunan yang berjalan di Jawa Barat.

Salah satu yang menjadi sorotannya adalah Kertajati. Ia berharap bandara tersebut bisa menjadi “jendela besar” Jawa Barat sekaligus pengungkit roda perekonomian daerah.

Ia mengaku sempat memiliki ikatan emosional dengan pembangunan Kertajati sejak masa groundbreaking pada era Presiden Joko Widodo.

“Saya senang ketika Pak Jokowi melakukan groundbreaking. Saya pikir kita punya jendela besar, bisa pergi dari dan ke Jawa Barat lewat Kertajati. Ternyata kemudian berubah,” katanya.

Daddy mengatakan, setiap gagasan yang muncul dari lapangan bisa dituangkan dalam berbagai bentuk tulisan. Ada yang dibuat menjadi puisi, ada pula yang disampaikan dalam bentuk esai atau opini.

Melalui kegiatan bedah buku tersebut, ia berharap budaya literasi tidak hanya berhenti pada kegiatan membaca, tetapi juga mendorong generasi muda berani berpikir, menulis dan menyampaikan gagasan untuk kemajuan Jawa Barat.

“Yang paling penting, generasi muda harus sadar bahwa mereka adalah calon pemegang tongkat estafet berikutnya,” pungkasnya.