Connect with us

SOSIAL

Besek, Proses Produksinya Lama Harganya tak Seberapa

|

Tenoh, pengrajin besek, sedang menyelesaikan besek berukuran 20 cm. (Foto: Amra Iska)

KAPOL.ID–Besek, salah satu kerajinan anyaman bambu bersegi empat. Sebagian masyarakat Kabupaten Tasikmalaya sudah memproduksinya sejak ratusan tahun yang lalu. Masyarakat lokal menyebutnya pipiti.

Generasi pengrajin besek hampir tak pernah putus. Terus saja turun temurun. Misalnya, Di Desa Cigadog, Kecamatan Leuwisari, masih banyak warga yang memproduksi besek. Walaupun harganya tak seberapa, jika dibandingkan dengan waktu serta kerumitan selama memproduksinya.

“Murah harganya mah. Ukuran 16 cm cuma Rp 500. Yang besar, ukuran 20 cm, harganya cuma Rp 1.750,” Cicih menuturkan.

Cicih salah seorang warga Cigadog Girang berusia 68 tahun. Ia menjadi pengrajin besek sejak remaja. Belajar dari orangtuanya. Di keluarga Cicih, membuat besek adalah keterampilan warisan leluhurnya. Tenoh, 53 tahun, anaknya Cicih; kini juga sama bisa membuat besek.

Jika fokus tanpa hambatan pekerjaan lain, terang Cicih, ia mampu menyelesaikan besek sebanyak 20 unit per hari; bagian alas dan tutupnya. Itupun bukan sekadar menganyam, tetapi untuk seluruh rangkaian prosesnya.

Membuat besek memang sebuah rangkaian proses yang panjang. Mula-mula memotong bambu tiap ruasnya. Kemudian membelah dan menjemurnya agar sedikit kering. Kalau musim hujan, prosesnya bisa lebih lama lagi.

Cicih sedang ngahua bambu. Pisau yang ia gunakan adalah pisau khusu ngahua. (Foto: Amra Iska)

Ngahua, adalah proses selanjutnya. Yaitu membelah bagian hati bambu tipis-tipis. Pisaunya khusus, pisau ngahua. Yang belum terampil, niscaya hanya akan menghambur-hamburkan bahan baku. Karena akan banyak gagal, jadinya bambu terbuang percuma.

“Sehari ngahua paling dapat lima ruas bambu. Kalau beli mambunya mah tetep aja salayan, harganya Rp 15.000, ada 15 ruas. Jadi, beli bambu tiap tiga hari sekali,” Cicih menambahkan.

Bambu hasil ngahua, lanjut Cicih, kembali dijemur, hingga kering. Selepas itu diraut supaya halus. Barulah memasuki proses selanjutnya, menganyam lembaran bambu hingga menjadi besek.

Di Cigadog juga banyak bandar. Jadi, pengrajin tidak mesti jauh-jauh memasarkan. Bandar itulah yang mendistribusikan besek ke kota-kota, baik sekitar Tasikmalaya maupun ke luar; seperti ke Bandung dan Jakarta.

Cicih dan Tenoh mengaku kalau mereka biasa menerima hasil kerjanya seminggu sekali. Bertepatan dengan kedatangan bandar ke kediaman mereka, untuk mengambil besek.

“Dalam seminggu, penghasilan bersih itu paling besar Rp 30.000. Itu setelah dipotong modal beli bambu untuk bahan dasarnya,” Tenoh menambahkan keterangan ibunya.

Di sisi lain, Odo Hasanudin selaku anggota BPD Desa Cigadog mengaku kalau pihaknya belum pernah membantu pengrajin dalam bentuk materi. Karena memang anggaran untuk itu tidak ada.

“Tapi kalau untuk penyuluhan yang difasilitasi oleh desa, pernah. Bahkan berkali-kali kami selenggarakan,” terang Odo.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Advertisement

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *