oleh

Jakarta PSBB Lagi, Dungus Tamiang Masih “Ngeureuyeuh” Kirim Kerajinan Anyaman Bambu

KAPOL.ID–Jakarta sudah dua kali memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). PSBB Jakarta tahap kedua sudah mulai sejak 14 September 2020.

Nyatanya, pada sektor ekonomi, sebagian warga Kabupaten Tasikmalaya juga menggantungka hidup ke Jakarta; sekalipun yang bersangkutan tidak keluar dari kampung halamannya. Antara lain para pengrajin kerajinan anyaman bambu.

Sebut saja Paguyuban Dungus Tamiang, sebuah perusahaan kerajinan anyaman bambu milik Tata Ruhawan. Perusahaan yang beroperasi sejak awal 2000-an ini berdomisili di Kampung Cimuta, Desa Cigadog, Kecamatan Leuwisari. Dalam menjalankan roda perusahaannya, Dungus Tamiang sedikit-banyak bergantung juga ke Jakarta.

“Per dua hari sekali kita mengirim barang ke Jakarta. Jumlahnya sesuai pesanan. Walaupun di sana PSBB, bahkan waktu PSBB yang pertama juga kita masih ngeureuyeuh bisa ngirim barang. Pesanan selalu ada,” ujar Lilis Suryani, Rabu (16/9/2020).

Masih kata Lilis, perusahaannya biasa mendapat pesanan dari Jatinegara, Tangerang, Majestyk, Darmawangsa, dan Cikini. Selain itu, Lilis juga memasukkan barang ke Yogya dept store, di daerah Bandung. Nah, di sinilah yang macet.

“Kalau ke Yogya dept store, Bandung, kita benar-benar kesulitan, sejak ada PSBB yang pertama juga. Bon kita sudah numpuk, belum terbayar. Ya, karena memang barangnya numpuk di gudang, sampai ribuan set,” sambungnya.

Lilis begitu mensyukuri bahwa pesanan barang dari Jakarta tidak berhenti. Sebab ia mesti memikirkan juga nasib tujuh orang pegawainya. Berkat perusahaan di Jakarta juga, Dungus Tamiang bisa mengirim barang ke Malaysia.

“Kalau berhenti mengirim barang, kan kasihan para pekerja. Kita juga habis mengirim barang ke Malaysia, kemarin tanggal 12 September. Kita akan mengirim barang lagi ke Malaysia tanggal 24 September,” lanjutnya.

Tapi tidak semua pengrajin anyaman bambu di Kabupaten Tasikmalaya bernasib mujur seperti Dungus Tamiang, atas kebijakan Pemerintah Provinsi Jakarta memberlakukan PSBB tahap kedua ini. Sebab di antara mereka ada juga yang gagal mengirim barang, padahal pengerjaan kerajinan sudah selesai.

Engkus, misalnya, warga Desa Mandalagiri, Kecamatan Leuwisari. Ia terpaksa mesti gigit jari, karena sekitar tiga hari menjelang PSBB di Jakarta, kabar tidak mengenakkan datang menghampirinya. Pihak perusahaan di Jakarta mendadak menunda pesanan.

“Baru saja kami mau bangkit, sudah terjatuh lagi. Begitulah kira-kira. Karena sekitar tiga bulan sejak Maret kemarin, kita sama sekali tidak produksi. Kemudian mulai ada pesanan lagi. Giliran kita tinggal mendapatkan hasilnya, eh, Jakarta PSBB lagi,” keluh Engkus.

Komentar