Bincang Literasi Sastra di Tasikmalaya

  • Bagikan
Para pegiat literasi sastra mengijuti diskusi Pemajuan Budaya Melalui Literasi Sastra di Hotel Horison Kota Tasikmalaya.

KAPOL.ID–Diskursus berjudul “Pemajuan Kebudayaan Melalui Literasi Sastra” terselenggara di Hotel Horison Kota Tasikmalaya, Sabtu (26/6/2021). Anggota Komisi X DPR RI, Ferdiansyah memprakarsai kegiatan tersebut, bekerja sama dengan beberapa pihak.

Politisi Partai Golkar yang lolos ke Senayan dari Daerah Pemilihan (Dapil) XI (Garut dan Kabupaten/Kota Tasikmalaya) tersebut mengemukakan bahwa berdasarkan hasil diskusi dengan beberapa kalangan, belum ada keseragaman pemahaman soal literasi sastra.

“Untuk itu perlu dilakukan juga sosialisasi yang massif bersama seluruh aparat, pemangku jabatan, pegiat kebudayaan, kemudian juga pemuda-pemudi untuk lebih memahami literasi sastra dalam negeri,” terang Ferdiansyah.

Di samping itu, Ferdiansyah mengimbau secara khusus kepada para guru untuk menyampaikan serta memberi contoh karya sastra yang mudah-mudah dulu kepada siswanya. Misalnya dalam membuat karya sastra seperti puisi dan sebagainya.

“Supaya anak-anak tertarik dulu. Jadi tahapannya itu bisa dimengerti, dipahami, dipraktikkan, dan yang paling terakhir adalah dicintai. Ini dilakukan dalam rangka mendukung menjaga ketahanan budaya bangsa Indonesia,” Ferdiansyah menandaskan.

Di pihak lain, Ketua Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya, Bode Riswandi mengemukakan bahwa tidak ada kata akhir untuk gerakan literasi. Baik dunia masih berkembang atau sedang terpuruk, literasi adalah unsur terpenting agar melek terhadap suatu keadaan.

“Jadi kegiatan seperti ini (diskusi literasi sastra, Red.) sangat penting untuk dilaksanakan oleh banyak kalangan atau pihak. Kegiatan yang dilaksanakan oleh senator atau pemerintah adalah sebagai wujud kepedulian. Literasi memang tugas bersama,” ujar Bode.

Bagi Bode, warga tidak bisa menyerahkan semua sebagai tanggung jawab pemerintah. Justru harus ada kolaborasi antara keduanya, seperti pertemuan di Hotel Horison. Kolaborasi di mana pemangku jabatan memamparkan kebijakan kapeda stakeholder di bawahnya, kemudian dilakukan langsung oleh semua pihak.

Di Kabupaten Tasikmalaya sendiri, kata Bode, beberapa komunitas sudah membangun pola-pola gerakan literasi; melanjutkan upaya-upaya yang sudah dilakukan oleh pendahulunya. Dengan demikian, ia tidak sepakat jika ada yang mengatakan minat baca warga Tasikmalaya rendah.

“Saya kira bukan persoalan minat baca yang kurang, melainkan daya baca. Selagi ada toko buku, di situ ada pembaca. Yang harus ditingkatkan itu adalah daya bacanya,” pungkasnya.

  • Bagikan