KAPOL.ID – Teror gerombolan monyet liar di Kampung Legokkadu, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya kian menjadi-jadi. Belum hilang trauma warga setelah serangan Selasa lalu yang merusak jendela rumah warga, kini aksi primata tersebut semakin beringas dan nyaris mencelakai penghuni rumah, Kamis (18/4/2026).
Pagi itu, sekitar pukul 06.00 WIB, suasana rumah Nanang mendadak berubah mencekam. Bukannya kicau burung yang terdengar, justru gedoran keras di pintu dan kaca jendela yang memacu adrenalin. Segerombolan monyet berukuran besar tampak “mengepung” rumahnya dari berbagai penjuru.
”Rumah saya dikepung, Pak. Saya tidak berani keluar karena takut. Di depan pintu ada dua ekor, di atas atap musala satu, dan di teras ada dua ekor lagi. Belum lagi yang di atas pohon, ada sekitar empat ekoran,” ungkap Nanang
Situasi benar-benar genting. Di dalam rumah, Nanang bersama istri dan tiga anaknya termasuk satu balita hanya bisa terpaku. Mereka merasa tersandera di rumah sendiri. Kepanikan kian memuncak saat kedua anak Nanang harus berangkat sekolah, sementara monyet-monyet tersebut justru duduk tenang di depan pintu seolah mengadang siapa pun yang keluar.
Beruntung, Ketua RT setempat, Adis, bergerak cepat setelah mendapat telepon darurat dari pemilik rumah. Tiba di lokasi, Adis dihadapkan pada pemandangan tak biasa; sekitar sepuluh ekor monyet liar tampak menguasai halaman rumah Nanang.
”Waktu itu, monyet yang di depan rumah saya pancing dulu pakai pisang. Begitu mereka teralihkan, saya perlahan berjalan mengendap-ngendap lewat pintu dapur di belakang rumah,” cerita Adis mengenai aksi penyelamatannya.
Berkat langkah taktis sang Ketua RT, kedua anak Nanang akhirnya berhasil dievakuasi keluar rumah melalui pintu belakang dan berangkat sekolah dengan selamat.
Misteri Asal-Usul Gerombolan Primata
Fenomena munculnya gerombolan monyet ini menyisakan teka-teki besar bagi warga Salawu. Pasalnya, wilayah Legokkadu bukanlah kawasan hutan lebat yang menjadi habitat alami monyet.
”Bingung sekali, harus bagaimana menanganinya. Kalau diusir bukannya pergi, malah balik menyerang,” ujar Adis
Adis menambahkan, kecil kemungkinan jika monyet-monyet ini berasal dari Gunung Tawilis yang memang dikenal sebagai habitat aslinya. Sebab, jarak dari lokasi kejadian ke Gunung Tawilis mencapai lebih dari 50 kilometer.
”Warga tidak ada yang tahu asalnya dari mana. Di sini tidak ada hutan lebat, dan fenomena ini baru terjadi sekitar satu bulan terakhir. Sebelumnya jangankan gerombolan monyet, yang memelihara pun tidak ada,” pungkasnya. (Adji Shg)






