BIROKRASI

Bupati Ade Sugianto Berencana Ajak DKM Masjid Agung Baiturrahman Studi Tiru ke Sragen

×

Bupati Ade Sugianto Berencana Ajak DKM Masjid Agung Baiturrahman Studi Tiru ke Sragen

Sebarkan artikel ini
Studi Tiru
Bupati Kabupaten Tasikmalaya, H. Ade Sugianto menyampaikan niatnya mengajak DKM Masjid Agung Baiturrahman melakukan studi tiru ke Klaten. (Foto: Istimewa)

KAPOL.ID — Bupati Tasikmalaya, H. Ade Sugianto mengidamkan sebuah metode pengelolaan masjid yang baik dan memberi kemaslahatan bagi masyarakat banyak. Karena itulah ia berencana mengajak jajaran DKM Masjid Agung Baiturrahman untuk melakukan studi tiru ke Sragen, Jawa Tengah.

“Pak Sekda, saya sudah berpikir, pada akhir Ramadan mudah-mudahan Allah memberikan rezeki dan usia serta sehat kepada kita; saya akan membawa jajaran Masjid Agung (Baiturrahman) dan para kiai, mungkin mewakili. Pak Kemenag boleh ikut, dengan syarat mohon untuk mempersiapkan liwet,” ujar Ade Sugianto.

Bupati Ade Sugianto mengemukakan hal tersebut pada saat membuka Ramadan Fair di sekitar Masjid Agung Baiturrahman, beberapa waktu lalu. Adapun masjid tujuan studi tiru yang Ade maksud adalah Masjid Raya Al-Falah.

Sejauh yang Bupati Ade Sugianto baca dari berbagai artikel, manajemen Masjid Raya Al-Falah itu luar biasa. Jajaran pengurus DKM Masjid Baiturrahman mungkin harus menirunya.

“Saya yakin kalau urusan mendirikan masjid, mengurus masjid dan memakmurkan masjid; orang Tasikmalaya paling jago. Tapi Masjid Raya Al-Falah ini manajemennya sangat luar biasa,” lanjut Ade.

Salah satu kehebatan manajemen Masjid Raya Al-Falah yang berbeda dengan yang lainnya; saat masjid lain berpikir mengumpulkan donatur atau uang kas sebanyak mungkin, Masjid Raya Al-Falah justru berupaya sebaik mungkin agar kas masjid setiap bulannya nol (habis).

Adapun alokasi kas masjid yang utama, pertama untuk menyediakan layanan kesehatan gratis kepada masyarakat yang membutuhkan. Pihak DKM tidak memandang status penerima manfaat. Melayani semua tanpa peduli tua, muda, kaya, miskin, muslim maupun non muslim.

Kedua, pihak DKM menyediakan layanan makan gratis setiap hari. Selain hari Senin dan Kamis, makanan tersaji setiap siang hari. Sementara pada hari Senin dan Kamis makanannya tersaji bakda Magrib.

Ketiga, DKM Masjid Raya Al-Falah menyediakan hotel kapsul, atau menyediakan semacam kasur busa. Hotel tersebut khusus untuk memfasilitasi para musafir yang datang atau sekadar melintas. Itu berlaku baik untuk umat Islam maupun bukan umat Islam.

DKM Masjid Al-Falah juga tidak melarang anak-anak yang berlari-larian sambil berteriak-teriak di dalam masjid. Mereka membiarkan anak-anak mengenal masjid sedini mungkin; dengan caranya dan dengan gayanya.

Ari barudak kudu wiridan mah pan teu aya ti dituna gé. Yang penting anak-anak kita lebih banyak didekatkan ke masjid tersebut sedini mungkin. Agar rasa cinta kepada masjid bisa tumbuh secara alami,” tambah Ade.

Pada akhirnya politikus PDI Perjuangan itu berpandangan bahwa Masjid Raya Al-Falah bisa menjadi salah satu referensi pengelolaan masjid yang baik. Memang tidak harus persis seperti itu, paling tidak dengan studi tiru DKM Masjid Agung Baiturrahman bisa mengambil sebuah contoh.

Support KAPOL with subscribe, like, share, and comment

Youtube : https://www.youtube.com/c/kapoltv

Portal Web : https://kapol.tv/
Portal Berita : https://kapol.id/
Facebook : https://www.facebook.com/kabar.pol
Twiter : https://twitter.com/kapoltv