KAPOL.ID — Ada geliat ekonomi Kabupaten Tasikmalaya di tengah Peringatan Hari Santri Nasional 2026. Ratusan stand UMKM memenuhi akses terdepan menuju perkantoran Pemkab Tasikmalaya.
UMKM ini menjajakkan produk yang variatif. Apalagi ada panggung seni bagi para santri menunjukkan kebolehannya. Tentu seni yang identik dengan dunia pesantren.
Bupati Tasikmalaya, Cecep Nurul Yakin mengemukakan bahwa pihaknya ingin meninggalkan warisan (legacy) serta nilai tambah bagi masyarakat pada setiap perhelatan besar. Termasuk pada ajang Peringan Hari Santri Nasional 2026.
“Saya sampaikan kepada panitia, Sekda, Kemenag, dan Forum Komunikasi Pesantren bahwa event ini bukan sekadar peringatan dan perayaan, tapi selalu harus ada hikmah. Ada perayaannya, ada nilai sejarahnya, dan ada nilai ekonominya melalui pameran UMKM,” kata Cecep, Selasa (20/10/2026).
Di Kabupaten Tasikmalaya sendiri, Perayaan Hari Santri Nasional 2026 tidak selesai dalam sehari. Ada rangkaian kegiatan panjang hingga 25 Oktober 2026.
Sebelum sampai pada puncak acara pada 22 Oktober ada pertunjukan Seni Santri, Festival Qasidah Rebana, Festival Hadroh, hingga panggung Haflah Tilawah. Qori dan qoriah terbaik bisa unjuk suara di sana.
Puncak kegiatannya sendiri nanti pada 22 Oktober 2026. Panitia akan menggelar Apel Besar di Lapangan Pemkab Tasikmalaya. Lanjut Konser Gita KDI. Lengkap dengan penampilan Reggae Sholawat oleh Hamed Uye.
Dalam hal geliat ekonomi, kata Cecep, Pemkab Tasikmalaya punya rencana strategis dalam mengimplementasikan ekonomi syariah. Hal itu tidak terlepas dari label kabupaten religius. Bahkan, Bupati sendiri akan menerbitkan Peraturan Bupati (Perbup) terkait Wakaf Produktif.
“Wakaf produktif ini akan melibatkan sekitar 16.000 Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) di lingkungan Pemkab Tasikmalaya. Setiap orang paling tidak berwakaf produktif Rp 1 juta dalam satu tahun. Jadi, dari 16.000 pegawai itu akan terkumpul dana sekitar Rp 16 miliar per tahun,” lanjut Cecep.
Namanya juga wakaf produktif, dananya harus terus berkembang. Untuk itu akan dititipkan pada instrumen Surat Berharga Syariah Negara (Sukuk). Baru hasilnya bisa bermanfaat untuk kesejahteraan pesantren dan para kiai.
“Taro saja imbal hasilnya 5 persen, kan sudah sekitar Rp 800 juta per tahun. Dananya bisa kita berdayakan untuk santri kurang mampu di pesantren serta memfasilitasi BPJS para ajengan dan kiai. Inilah bentuk implementasi Kabupaten Tasikmalaya yang religius dan islami dalam bidang muamalah,” tegas Cecep.
Di pihak lain, Wakil Bupati Tasikmalaya; Asep Sopari Al Ayubi berharap program ekonomi kreatif dan syariah dapat menyentuh seluruh pesantren. Supaya semuanya maju, mandiri, dan terus mencetak alim ulama.
“Kita mendorong ekonomi kreatif ini menyentuh semua pihak agar pondok pesantren semakin maju, mandiri, dan terus mencetak alim ulama yang menyejukkan serta menjadi pembimbing akidah masyarakat,” kata Asep Sopari.












