Lebih mirisnya lagi, pemilik kontrakan di Gunung Roay saat ini, justru di dominasi pendatang dari luar. Bahkan, masyarakat penduduk asli Gunung Roay yang tinggal di Gunung Roay pun nyaris sedikit.
Gunung Roay saat ini dipenuhi dengan bangunan kontrakan menjulang tinggi. Dilengkapi dengan berbagai fasilitas, yang membuat antar pemilik kontrakan satu dengan yang lainnya semakin bersaing, menata kontrakan miliknya masing-masing senyaman mungkin agar diminati.
Tidak hanya itu. Jalanan di Gunung Roay pun tidak pernah sepi dari lalu lalang kendaraan. Terlebih di hari-hari kuliah, lalu lalang motor terbilang padat, baik mahasiswa yang hendak pergi ke kampus, abang pengantar paket, abang pengantar layanan pesan antar, dan sebagainya.
Cukup memusingkan. Lebih menjengkelkannya lagi, jikalau ada kendaraan yang diparkirkan sembarangan di pinggir jalan, jelas mengganggu kendaraan lain yang hendak lewat mengingat lebar badan jalan Gunung Roay sangat sempit.
Klakson tanda kekesalan seringkali dibunyikan.
Lebih ironinya. Disadari atau tidak, Gunung Roay kini menjadi pusat incaran tindakan kriminal dan perilaku negatif lainnya. Pencurian sepeda motor, ponsel, laptop, dsb yang menyasar kontrakan-kontrakan dengan berbagai modus dan cara pernah terjadi.
Berbagai perilaku tindakan asusila pun, pernah terjadi. Baik yang diam-diam ataupun yang tertangkap basah, tindakan bejad seperti itu jelas menjadi bumerang tersendiri bagi Gunung Roay.












