oleh

HAB ke 75 Kemenag, Sisi lain Menteri Agama Baru Yang Ansor

Oleh Ma’mun Alfikry
ASN Kemeterian Agama, Jamaah NU

Peringatan hari jadi, atau lebih dikenal dengan Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama tahun 2021 cukup berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal utama adalah sebab masih mewabahnya pandemi Covid-19. Segala aktifitas yang melibatkan banyak orang terlarang dilaksanakan.

Walhasil dalam kondisi ini praktis kebiasaan kemerihan agenda HAB pun terkendala. Tidak ada perlombaan olahraga dan/atau kreasi lain layaknya pihak yang tengah sukacita dengan selebrasi hari jadinya.

Tak terkecuali dengan resepsi resmi atau puncak acara dalam bentuk upacara pun mengalami pergeseran. Tahun ini baru bisa terlaksana pada tanggal 5 Januari 2020, bergeser dua hari. Padahal selama lebih 18 tahun saya menjadi bagian dari korp Ikhlas Beramal sepanjang itu pula upacara bendera selalu pada tanggal 3 Januari. Tanggal dimana Kementerian Agama lahir 75 tahun lalu. Tepatnya tanggal 3 Januari 1946.

Bukan saja soal waktu yang bergeser, peserta upacara pun dibatasi hanya pihak-pihak tertentu. Terutama bagi para pegawai di Kantor Kementerian Agama dan pejabat lain di bawahnya serta para pihak yang mendapatkan penghargaan. Di luar pihak tersebut hanya diperkenankan mengikuti upacara secara daring. Baik melalui zoom atau youtube. Termasuk saya –yang berdinas di Madrasah- hadir melalui laman tersebut. Kondisi seperti ini kiranya berlaku pula bagi seluruh kantor dan pegawai kementerian Agama se Indonesia.

Nuansa lain dari peringatan HAB kali ini sebab kami baru saja mendapatkan Menteri Agama yang gress. Belum genap sebulan beliau menjabat. Berdasarkan hasil pergantian (reshuffle) yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo di akhir bulan Desember 2020. Menteri Agama yang lama Jendral Fahrurozi diganti oleh Gus Yaqut Holil Qoumas. Sosok yang cukup kontras diatara kedua tokoh ini. Yang satu generasi senior, mntan Jendral masa Orde Baru. Penggantinya soerang muda, Ketua GP Ansor, sayap kepemudaan NU sekaligus Panglima Tertinggi Barisan Ansor Serbaguna (Banser).

Namun demikian bagi kami, para ASN di lingkungan Kementerian Agama di lapisan terbawah tidak terdamapak apapun atas pergeseran Menteri. Bekerja seperti biasa sesuai jam kerja sesuai tugas dan fungsi (tusi) masing-masing serta hak lain yang meekat. Boleh jadi bagi para pejabat teras hingga daerah dimungkinkan ada imbasnya. Dimungkinkan ke depan ada pergeseran jabatan. Seiring ada pos yang belum terisi atau ada posisi yang kurang sesuai dengan sudut mata Menteri yang baru.

Meskipun tidak terdampak secara langsung terhadap kinerja sesuai dengan tusi, terus terang secara pribadi saya merasakan gairah baru. Merasa lebih percaya diri plus ada kebanggaan menjadi bagian dari Kementerian Agama atas hadirnya Menteri Agama baru.

Pasalnya ia dikenal seorang tokoh yang telah terbukti loyalitas dan komitmennya atas negara dan agamanya. Hal ini sebab ia salah satu Kader utama NU dan Pesantren. Pihak yang paling getol menyuarakan ‘khitohnya’ untuk setia menjaga keutuhan NKRI. Bagi NU mencintai NKRI adalah harga mati, terpatri melaui slogan ‘hubbul wathon minal iman’. Bahwa mencitai negara, nasionalisme ada bagian dari keimanan. Dan saya merasa bagian dari garis ini.

Catatan Kiprah Ansor NU
Tujuan atau maqasid syariah dari sikap setia Ansor NU (selanjutnya saya menyebut Ansor) terhadap NKRI, adalah bahwa dengan memiliki negara yang aman, damai, sejahtera, kita -wabilkhusus umat islam- bisa melaksanakan ajaran agama dengan leluasa dan sempuran. Tanpa gangguan dari pihak manapun. Menjaga NKRI agar tetap utuh, aman, artinya kita tengah menjaga rumah, sarana ibadah, amaliyah lain. Agar senantiasa terawat. Bagaimana mungkin negara dalam keadaan terjajah atau konflik, rakyatnya bisa melaksanakan ibadah dengan tenang. Itulah kenapa komitmen ini jauh hari telah dikibarkan oleh para pendiri Ansor untuk tegaknya NKRI.

Walhasil dengan kiprah inilah, serta didukung dengan sumber daya yang dimiliki Ansor diyakini mampu merawat NKRI. Tak terkecuali dengan SDM-nya. Bahkan dalam jiwa mudanya terlihat lebih berani tampil ke muka, berhadapan dengan siapa saja yang mencoba menganggu keutuhan rumah besar NKRI. Apapun resikonya mereka kerap tampil untuk ‘menghadang’ sesiapa saja yang coba mengoyak keutuhan bangsa. Dan secara kebetulan pimpinan Ansor NU kini dipercaya menjadi Menteri Agama.

Sejarah telah mencatat Ansor senantiasa hadir dikala bangsa atau negara dalam keadaan bahaya. Menjadi front terdepan dari kalangan sipil, yang siap pasang badan berhadapan dengan musuh NKRI. Seperti dikala PKI mencoba merubah haluan negara, Ansor ikut serta dalam barisan bersama aparat menumpas pergerakannya. Pada akhirnya NKRI tetap jaya.

Di sisi lain Ansor pun secara sukarela memaafkan dan menampung para pengacau tersebut yang ingin bertaubat kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Untuk sama-sama menatap kedepan, hidup bersama secara harmoni, tanpa saling curiga.

Sebab peran Ansor cukup berisiko, sudah pasti pada saatnya menemukan jalan terjal. Bukan saja berhadapan lansung dengan pihak ‘bermasalah’ seperti PKI atau pemberontak lain. Pihak di luar arena pun banyak yang curiga, hingga menentang terhadap kiprahnya. Seperti dikala Ansor berani, terdepan melawan ide dan gerakan HTI. Salah satu Ormas, Orpol transnasional berideologi khilafah. Pada masanya mereka secara massif, terstruktur mempropokasi masyaratkat untuk mempreteli Negara. Agar tercerabut dari akarnya, Pancasila. Diganti dengan ideologi lain.

Dalam pada ini Ansor meyakini ide khilafahnya HTI cukup membahayakan bagi keutuhan bangsa. Pada sikap ini pula banyak pihak yang mencibir, menyangka seolah Ansor tengah menentang ajaran Islam. Bagaimana mungkin, Ansor yang notabene adalah santri, pengamal agama Islam, bisa-bisanya melawan ajarannya?.

Tentu saja bukan itu dasarnya. Yang dilawan adalah misi HTI. Mereka ingin mengganti dasar Negara, Pancasila. Hasil kesepakatan rumusan bersama, -para pihak dengan latar berbeda- dikala negeri ini hendak merdeka. Pancasila adalah bingkai, pemersatu bagi suku, budaya dan agama yang berbhineka. Jika Pancasila hilang atau tergantung dengan ideologi lain maka tidak ada lagi Indosesia. Walhasil siapapu pihak yang mencoba merusak kesepaham ini wajib dilawan. Dan HTI di dalamnya.

Dalam kiprah yang lain, dikala Ansor harus turun tangan menjaga gereja atau tempat lain yang menjadi sasaran bom kaum teroris-radikalis. Banyak pihak yang ‘kebakaran jenggot’, mereka mengira Ansor tengah menjaga ritual dan sarana agama lain (kafir). Ini jelas salah sangka. Yang dijaga Ansor adalah –justru- nama baik atau citra Islam sendiri. Paslanya dalam banyak kasus, bahwa para pelaku pengeboman atau bom bunuh diri di gereja dan/atau sarana ibadah lain adalah mereka yang mengaku beragama Islam.

Padahal dalam ajaran Islam tidak mengajarkan hal demikian. Jangan kata menghancurkan tempat ibadahnya, mencolok simbol agama lain pun terlarang. Atau jangan kata di masa damai seperti kondisi saat ini, sewaktu terjadi perang saja, salah satu tempat yang wajib terlindungi adalah sarana tempat ibadah. Termsuk Gereja.

Alih-alih dikala terjadi bom gereja atau tempat ibadah lain di satu wilayah atau negara, dalam sekejap pula tersiar, pemberitaan khalayak. Jadi trending berita dunia. Tentu dengan citra buruk terhadap Islam. Termasuk wajah suram Indonesia tersiarkan. Dalam keadaan ini bagi para pihak yang sejak awal tidak suka dengan islam, semakin benci.

Semakin mendapat dalih atas sikap Islmaphobia di dunia global, terutama negara-negara barat. Mereka semakin yakin atas stempel teroris bagi umat beragama Islam. Sebab inilah Ansor tampil menjaga dan mempertahankan citra baik wajah Islam

Terakhir, hal yang menjadi pergujingan di kalangan luar, adalah tentang pelarangan pengajian yang dilakukan oleh sahabat Ansor. Para pihak menyebutnya pembubaran pengajian. Coba dalami, mari kita berpikir jernih, bukankan anggota Ansor itu adalah santri, ahli wirid dan pengajian. Mungkinkah aktifitas dan ritualnya dibubarkan?. Ini jelas mustahil. Lalu apa yang terjadi. Bahwa yang halangi adalah sarana ujaran kebencian, upaya provokasi, fitnah dan adu domba antar umat beragama.

Kerap mengkafir bid’ahkan ritual para pihak yang berbeda, dll. Ini jelas tengah membenturkan sesama umat islam, antar umat islam atau agama lain. Dan ujaran ini adakalanya dikemas dengan –model- pengajian. Jelas itu menciderai makna pengajian yang selayaknya menyampaikan, ajakan kebaikan, kedamain (maidah hasanah).

Jika hal ini terus dibiarkan sangat berpotensi memecah belah umat. Menyulut permusuhan antar sesama warga. Persaudaraan terancam, kedamaian jadi barang langka. Dan ini pertanda Negara dalam keadaan bahaya. Situasi demikian, jangan kata bisa bebas mencari rezeki, belajar di sekolah atau aktifitas sosial lainnya. Untuk beribadah saja sangat sulit. Selalu terancam dengan ketakutan sebab suasana tidak aman. Keadaan yang persis terjadi di beberapa kawasan Timur Tengah kini.

Tentu saja hal demikian tidak kita harapkan. Nah, sebelum keadaan lebih pahit terjadi, sejak awal harus segera dihentikan. Jika saja Negara diam dengan keadaan ini, maka Ansor berani tampil ke depan. Membela bangsa dan agama.

Dalam momentum HAB Kementerian Agama serta nuansa Menteri Agama yang baru dari kalangan muda, Ansor. Kita berharap kehidupan keberagamaan dalam keragaman tetap terjaga dalam keadaan rukun dan damai. Semua umat beragama dan kepercayaan lain dapat melaksanakan ajaran agamanya dengan khusuk tanpa ada gangguan atau paksaan dari pihak manapun. Terakhir saya ingin menyampaikan Dirgahayu Hari Amal Bakti Kementerian Agama ke 75. Wallahu’alam.***

Komentar