KANAL

Hihid Geulis Buatan Leuwisari Tembus Pasar Malaysia dan Dubai

×

Hihid Geulis Buatan Leuwisari Tembus Pasar Malaysia dan Dubai

Sebarkan artikel ini

KAPOL.ID – Siapa sangka, peralatan dapur tradisional yang kerap dianggap sebelah mata, ternyata mampu menembus pasar internasional. Hihid atau kipas anyaman bambu yang biasanya hanya digunakan untuk mendinginkan nasi, kini melanglang buana hingga ke Malaysia dan Dubai.

​Adalah Endi, seorang pengrajin anyaman bambu asal Kampung Paniis, Desa Mandalagiri, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, yang menjadi sosok di balik kesuksesan tersebut. Di tangan dinginnya, bambu-bambu lokal disulap menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi.

​”Alhamdulillah, sudah tiga tahun rutin mengirim hihid ke Malaysia dan Dubai,” ujar Endi saat berbincang hangat di kediamannya, Senin (11/5/2026).

​Sentuhan Inovasi untuk Pasar Global
​Berbeda dengan hihid yang jamak ditemukan di pasar tradisional dengan harga kisaran Rp 3.000, produk buatan Endi untuk pasar ekspor memiliki karakteristik khusus. Dari segi estetika, hihid ini tampil lebih “geulis” dan modis.

​”Kalau untuk ekspor bentuknya setengah lingkaran. Ada variasi warna dan dua jenis teknik anyaman yang berbeda. Jadi memang bukan seperti hihid polos yang biasa dipakai warga sehari-hari,” terang Endi.

​Inovasi bentuk dan motif ini ternyata menjadi daya tarik utama bagi warga di Malaysia dan Dubai. Tak tanggung-tanggung, dalam satu bulan, rata-rata Endi mengirimkan sedikitnya 5.000 lembar hihid ke kedua negara tersebut.
​Dongkrak Ekonomi Lokal

​Untuk urusan distribusi, Endi menjelaskan bahwa proses pengiriman dilakukan melalui mitra perusahaan yang berlokasi di Kabupaten Cirebon.

​”Kami tidak mengirim langsung, tapi lewat PT yang di Cirebon sebagai jembatannya,” katanya.

​Kualitas dan desain yang unik pun berbanding lurus dengan nilai jual. Jika hihid biasa hanya dihargai sekitar Rp 4.000, produk ekspor ini dibanderol dengan harga Rp 7.000 per buah.

​”Harganya memang sedikit lebih tinggi karena menyesuaikan dengan tingkat kerumitan bentuk dan variasinya. Berbeda dengan yang polos,” pungkas Endi.

​Keberhasilan Endi ini menjadi bukti nyata bahwa potensi kerajinan tangan dari pelosok desa di Kabupaten Tasikmalaya memiliki daya saing yang kuat di kancah global, asalkan dibarengi dengan kreatifitas dan ketekunan. (Adji Shg)