Jokowi-Prabowo Menang Pilpres 2024, Menyelesaikan Masalah dengan Masalah

  • Bagikan
Prabowo Subianto-Jokowi. (Biro Pers Sekretariat Presiden)

KAPOL.ID – Jika hanya ada calon tunggal pada Pemilihan Presiden 2024 pesta demokrasi akan damai. Pandangan itu dilontarkan Ketua Dewan Penasihat Komunitas Jokowi-Prabowo 2024, M. Qodari. Menurutnya, duet Jokowi-Prabowo pasti bakal menang Pilpres 2024.

Qodari mencermati survei yang dia pelajari di Inggris. Suara arus bawah mengatakan demikian. Sebagai salah satu contoh yang menguatkan, adalah hasil survei yang dilakukan SRMC terhadap pemilih di PDIP.

Data menunjukkan kalau 66 persen pemilih PDIP mendukung Jokowi 3 periode. Angka itu belum ditambah dengan kegiatan kampanye yang bakal digulirkan 6 bulan sampai 1 tahun ke depan.

Dia meyakini bisa jadi pemilih PDIP yang mendukung Jokowi 3 periode termasuk berdampingan dengan Prabowo sebanyak 90 persen.

Namun pandangan Qodari itu dianggap sebagai masalah untuk menyelesaikan masalah.

Analis politik Exposit Strategic, Arif Susanto, menilai apabila Pilpres 2024 dijamin aman karena Jokowi dan Prabowo melawan kotak kosong, artinya masalah Pilpres 2014 dan 2019 itu terletak pada dua orang tersebut. Karena keduanya sempat bertarung pada dua pesta demokrasi tersebut dan polarisasi di tengah masyarakat pun tidak terelakkan.

“Bagaimana mungkin kalau dengan argumentasi ini Jokowi dan Prabowo adalah masalah, tetapi mereka dijadikan sebagai solusi. Karena tidak mungkin menyelesaikan masalah dengan masalah, enggak bisa,” kata Arif dalam diskusi bertajuk Presiden Jokowi 3 Periode: Khayalan atau Kenyataan secara virtual, Rabu (23/6/2021).

Arif lantas memberikan contoh pada pemilu Amerika Serikat di mana tidak pernah ada masalah dengan mengusung dua pasang kandidat capres-cawapres. Lagipula meskipun ada masalah pun, bukan berarti berasal dari jumlah kandidat pilpres.

Cara pikir seperti Qodari itu dikhawatirkan Arif malah akan menggiring pemikiran orang lain kalau semakin banyak calon kandidat itu maka akan menjadi sumber masalah.

“Saya khawatir kalau nanti misalnya muncul tiga pasang calon atau bahkan lima pasang calon kemudian bermasalah. Lalu orang keliru melihat bahwa banyaknya calon itu adalah sumber masalah,” tuturnya.

“Sumber permasalahannya bukan disitu, sumber masalahnya ada di apa yang sampaikan.” [suara.com]

  • Bagikan