OPINI  

Jurus Kearifan Orang Tua Ampuh Hadapi Corona

VIRUS corona (covid-19) menggemparkan Tasikmalaya, Indonesia ataupun dunia. Imbasnya sangat terasa di berbagai sendi kehidupan, mulai dari phsyical distancing — jaga jarak, mobilitas terbatas, hingga kekhawatiran kondisi kesehatan diri. Namun yang paling menjadi pembicaraan setiap orang akhir-akhir ini adalah perekonomian.

Masyarakat yang berpenghasilan harian paling merasakan pedihnya virus yang muncul di Kota Wuhan Tiongkok ini. Memaksakan berdagang pun, pulang nyaris dengan tangan kosong. Belum lagi sederet cicilan yang harus dibayar saat jatuh tempo.

Itu bagi kalangan menengah, bagaimana dengan masyarakat kecil?. Penghasilannya pun pas-pasan bahkan mepet gawir untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kondisi seperti ini membuat tekanan makin bertambah di tengah penyebaran ancaman virus.

Saat ini pemerintah cari solusi menyelamatkan kondisi perekonomian agar tidak memburuk beberapa bulan kedepan. Harapan masih ada, ketika sejumlah stimulus kebijakan mulai melaju. Mulai dari diskon hingga gratis biaya listrik, hingga rencana bantuan tunai serta sembako untuk menyambung hidup.

Di tengah situasi seperti ini, penulis mengingat kearifan orang tua yang mungkin saat itu disepelekan. Kembali segar dalam ingatan meski sudah bertahun-tahun lamanya. Orang tua zaman old tidak membiasakan diri hidup dalam kemewahan. Berbagai kebutuhan benar-benar dipersiapkan sejak jauh hari. Sebisa mungkin menabung untuk keperluan produktif.

Kala itu pinjaman ke lembaga keuangan belum semasif saat ini. Kalau terpaksa pun untuk kebutuhan produktif, bukan konsumtif. Beli rumah, wajar karena untuk memiliki aset. Sebisa mungkin menghindari cicilan lain yang sifatnya konsumtif, bukan kebutuhan primer. Kearifan orang tua itu jitu untuk menghadapi situasi seperti ini.

Mau bangun rumah, beli material secara bertahap sambil menabung di bawah bantal. Untuk pendidikan, sama pula simpan uang dengan metode yang sama atau membeli perhiasan. Mau nikahkan anak, pare atau padi sudah distok. Kebutuhan kecil sehari-hari tinggal meuncit ayam, memetik cabai, atau memanen singkong.

Berbicara informasi pun tidak jauh ketinggalan meski tak memegang hape berplatform android. Patokannya hanya dari media massa, tidak membaca pesan berantai whatsapp, jejaring sosial facebook ataupun lainnya. Nyamannya hidup orang tua kala itu, tak terpapar berita hoaks.

Mengingat kearifan orang tua itu setidaknya ngareugreug keun diri, bukan berarti kita tidak mengikuti perkembangan zaman. Apalagi di tengah ancaman virus corona yang menggerogoti segala sendi kehidupan. Segala sesuatunya pasti ada hikmah dari situasi seperti ini.

Work from home punya kelebihan dan kekurangan. Sebagai orang tua lebih intens mengurus keluarga, sang anak mendapat perhatian untuk membekali masa depannya. Sekaligus membenahi yang tak kakemot saat sibuk di luar rumah. Kekurangannya, tentu pekerja yang harus keluar rumah paling paham.

Persoalannya apakah kita mampu melewati ujian super ini dari sang pencipta. Apakah kita mau berubah dari segala kesalahan yang mungkin tak pernah disadari. Saya juga masih merenungi itu.***