OPINI  

Kapal Nabi Nuh itu Bernama PHBS

SAAT ini seluruh warga dunia sedang digegerkan oleh penyebaran virus corona yang telah mematikan ribuan orang di dunia. Virus corona sendiri ditemukan di bulan desember 2019 yang dikenal dengan 2019-nCoV di kota Wuhan, Cina.

Virus ini menyerang saluran pernafasan manusia. Susunan virusnya terdiri dari RNA, bukan DNA, yang berarti virus ini bisa bermutasi 1.000 kali lebih cepat. Para ahli juga menyebutkan terdapat kemiripan jenis virus corona yang ada di kelelawar dengan yang menyerang manusia dengan tingkat 89,1 %. Masa inkubasi virus corona adalah 1-14 hari bisa menyebar pada waktu masa itu.

Corona dapat berakibat penyakit fatal seperti bronchitis, pneumonia. Gejala menyerupai influenza pada umumnya, yaitu flu tidak berdahak, demam, infeksi radang tenggorokan, kadang disertai diare, sakit kepala, bersin, batuk.

Sejumlah negara mulai melaporkan pasien terinfeksi corona. Mulai dari Korea Selatan, Italia, Taiwan, Singapura, Thailand, Australia, Nepal, Vietnam, Macao, Hongkong, Malaysia, Canada dan juga Indonesia (Nessie judge).

Sampai dengan 21 Maret 2020, kasus pasien positif virus corona (COVID-19) di Indonesia mencapai 450 orang, 38 orang meninggal dunia dan 20 orang dinyatakan sembuh. “Ada penambahan kasus baru sebanyak 81 orang. sehingga total kasus adalah 450 orang,” ucap juru bicara pemerintah Achmad Yurianto saat konferensi pers di Jakarta yang disiarkan langsung, Sabtu (21/3/2020).

Penyebaran virus ini dapat dicegah dengan PHBS atau Perilaku Hidup Bersih dan Sehat yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 65 tahun 2013 tentang Pedoman Pelaskanaan dan Pembinaan Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan. PHBS merupakan perilaku kesehatan yang dilakukan karena kesadaran pribadi sehingga keluarga dan seluruh anggotanya mampu menolong diri sendiri pada bidang kesehatan serta memiliki peran aktif dalam aktivitas masyarakat.

Terdapat 5 tatanan PHBS di masyarakat, yaitu PHBS di rumah tangga, PHBS di sekolah, PHBS di tempat kerja, PHBS di sarana kesehatan dan PHBS di tempat umum. Manfaat PHBS sendiri tidak hanya menciptakan lingkungan yang sehat tetapi juga meningkatkan kualitas hidup manusia. Indikator PHBS di tatanan Rumah tangga meliputi 10 indikator yaitu persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan, pemberian ASI eksklusif, menimbang bayi dan balita secara berkala, cuci tangan dengan sabun dan air bersih, menggunakan air besih, memberantas jentik nyamuk, konsumsi buah dan sayur, melakukan aktivitas fisik setiap hari, dan tidak merokok di dalam rumah.

Di dalam ajaran Islam perilaku hidup bersih ini sendiri sebagaimana sabdanya: “Sesungguhnya Allah itu bersih, Dia cinta kebersihan”. (HR. Tirmidzi). terdapat dalam ayat “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah: 172).

Menurut HR Bukhari dan Muslim disampaikan bahwa “Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya, Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, makan janganlah kalian meninggalkan tempat itu.”

Kita patut menghargai apa yang menjadi ketetapan pemerintah dan mematuhi himbauan daerah pimpinan daerah khususnya di wilayah kota Tasikmalaya. Saat ini pemerintah daerah juga telah mengeluarkan peraturan tentang peningkatan kewaspadaan pencegahan penularan Covid-19.

BNPB selaku koordinator pusat pengendalian bencana juga telah mengeluarkan himbauan bagi seluruh warga Indonesia melalui sms gateway. Selalu menghimbau dan mengingatkan warga dalam pengendalian penyebaran covid-19 ini. Maka sepatutnya lah kita sebagai warga negara yang baik untuk dengan tertib mentaati himbauan tersebut.

Jabat tangan yang dilakukan di budaya Sunda sudah sangat melekat, tetapi dengan adanya situasi saat ini, sesuai dengan himbauan pemerintah juga kita sikapi dengan bijak untuk meminimalisir terlebih dahulu, demi kebaikan bersama. Hendaklah kita sebagai warga negara Indonesia yang baik, untuk selalu berfikir bijak, berfikir positif dan optimis, yakinlah bahwa situasi ini akan segera dapat terlewati dengan baik tanpa harus menimbulkan korban jiwa lebih banyak lagi.

Masa karantina ini marilah kita sikapi secara positif, meningkatkan waktu yang berkualitas dengan keluarga. Orang tua lebih dapat mendampingi anak selama 24 jam, membimbing anak belajar, mengerjakan PR dari sekolah, yang sebelumnya sebagai orangtua terutama yang bekerja hanya memiliki waktu terbatas dengan anak. Situasi ini ada hikmah yang bisa diambil bahwa saat ini orang tua bisa lebih banyak memiliki waktu berkualitas berinteraksi, berkomunikasi, mendampingi anak lebih dekat selama 24 jam.

Di dunia pendidikan sendiri, saat ini terlepas sebelum mewabahnya virus corona ini bahwa seluruh institusi pendidikan dituntut untuk siap menghadapi era revolusi 4.0. Dimana semua sistem khususnya pembelajaran berbasis online, menggunakan system blended kurikulum. Suatu institusi pendidikan akan memiliki nilai tambah akreditasi institusi bila pembelajaran telah dilakukan secara daring ataupun menggunakan e-learning.

Dengan kondisi situasi saat ini atau bahkan di beberapa wilayah telah menerapkan system lock down, secara tidak langsung telah menggiring proses pembelajaran siswa mengarah pada pembelajaran berbasis online. Hal ini secara tidak sengaja makin menyiapkan pendidik untuk siap menggunakan sarana pembelajaran berbasis online. Kondisi ini dapat menambah nilai akreditasi institusi bahwa tenaga pengajar siap memberikan materi secara online.

Marilah kita sikapi secara positif situasi ini, jangan panik dengan situasi, kurangi tingkat kecemasan personal. Menurut penelitian yang dilakukan di Ohio State University mengenai managemen stress bahwa semakin seseorang mengalami kecemasan atau stres dapat mempengaruhi daya tahan atau imun seseorang sehingga orang tersebut beresiko lebih tinggi terkena suatu penyakit.

Sehingga penting bagi kita semua untuk tidak panik, tidak cemas, dan juga tidak stress menghadapi wabah corona ini. Akan tetapi selalu berfikir positif dan logis terhadap realita, anjuran BNPB untuk mengurangi kerumuman sebaiknya dengan bijak hendaknya kita terapkan. Anjuran walikota khususnya di Kota Tasikmalaya ini untuk mengurangi kerumuman juga kita tanggapi dengan bijak, demi keselamatan diri sendiri, keluarga dan masyarakat pada umumnya.

Beberapa langkah yang dapat kita lakukan secara personal adalah dengan menjaga imunitas, menjaga lingkungan, menggunakan masker saat berada di ruang terbuka, mengolah makanan dengan tepat, jangan mengkonsumsi satwa liar, segera ke dokter apabila mengalami gejala seperti sakit tenggorokan, flu, batuk, demam, atau sesak nafas.

Agar tidak tertular virus corona, maka masyarakat harus menghindari kontak jarak dekat dengan penderita Infeksi Saluran Pernasafan Akut (ISPA), menggunakan alat pelindung diri (APD). Sering mencuci tangan setelah kontak bersama lingkungan orang sakit, mengingatkan etika mengenai batuk atau bersin supaya menutup mulut saat batuk atau bersin.

Mentalitas seluruh warga harus dirubah untuk lebih baik demi keselamatan bersama. Bila kita tidak mampu berusaha secara keras, merubah perilaku menuju perilaku sehat, maka bentang waktu masa penyebaran virus corona ini menjadi lebih lama. Menurut menteri kesehatan RI, Bp Terawan menyampaikan bahwa bentang waktu masa KLB ini bisa mencapai 90 hari.

Kondisi ini bukan masalah sederhana, bukan lagi main-main. Kita bisa belajar dari negeri Cina dengan segala kemajuan teknologinya telah berjuang mengatasi KLB covid-19 ini sejak bulan Desember 2019 dan masih terus berjalan sampai bulan Maret 2020. Artinya untuk kita di wilayah Indonesia, tidak ada di ruang kita untuk tinggal diam.

Seluruh elemen, mulai dari pemerintah pusat sampai lapisan masyarakat terbawah untuk bersama-sama mencegah dan mengendalikan penyebaran virus covid-19 ini. Kita bicara tidak hanya berfokus pada penyakitnya saja, perlu adanya gugus tugas dalam menghadapi kebencanaan ini, semua lapisan jadi satu untuk merespon sebaik-baiknya. Jika ini bisa dilakukan maka insyaallah kurang dari 3 bulan selesai ancamannya.

Corona ini adalah wabah penyakit menular, dimana penyakit menular ini basisnya adalah komunitas. Masalah komunitas adalah masalah bersama, yang dapat ditanggulangi secara bersama-sama tidak bisa ditanggulangi secara individu. Dalam kisah nabi Nuh as, siapa yang ingin selamat maka naiklah kapal besar ini bersama nabi. Saat ini kapal penyelamat ini adalah PHBS, maka patuhilah itu agar kita semua selamat.

Budayakan selalu Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), seperti Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), konsumsi gizi seimbang, rajin olahraga serta cukup istirahat. Optimislah dengan semua ini, masalah yang berbasis pada komunitas ini maka marilah kita seluruh komunitas warga Indonesia untuk bersama-sama menanggulanginya. Ini adalah cobaan, jangan frustasi, bersama kita hadapi dengan optimis agar kita bisa naik kelas menjadi pribadi yang lebih baik secara bersama-sama. ***