KAPOL.ID – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang menerjang kawasan lereng Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, dilaporkan kian meluas hingga Jumat (23/10/2026) pagi.
Hembusan angin kencang yang menerpa vegetasi mengering, ditambah minimnya sumber air di ketinggian, membuat si jago merah berhembus cepat merambat ke pelbagai titik. Kondisi ini mengancam ekosistem atap tertinggi di Jawa Barat tersebut.
Menyikapi situasi darurat ini, eskalasi operasi pemadaman dikerahkan secara masif. Sekda Jabar, Herman Suryatman memimpin langsung Apel Pengendalian Kebakaran Hutan di Lapangan Balekambang, Desa Pasawahan, Kecamatan Pasawahan, Kuningan, Jumat pagi.
Langkah cepat ini diambil guna memobilisasi ratusan personel tambahan sekaligus memastikan komando penanganan berjalan solid di bawah kendali Kalak BPBD Kabupaten Kuningan, Indra Permana.
Pengepungan Empat Tim dan Wacana Water Bombing
Guna menaklukkan kobaran api yang menjalar sejak Rabu (21/10/2026) malam, sebanyak 742 personel gabungan diterjunkan ke titik api.
Pasukan ini merupakan peleburan dari Balai TNGC, Balai PPI Jabalnusra, BPBD lintas wilayah (Kuningan, Cirebon, Kota Cirebon, Majalengka, dan Pemprov Jabar), Dinas Kehutanan, TNI, Polri, Manggala Agni Kemenhut, Perhutani, Damkar, Tagana, hingga Masyarakat Peduli Api (MPA) serta komunitas pegiat alam.
Pascagelar pasukan, ratusan personel langsung dipilah menjadi empat tim tempur untuk memblokade pergerakan api lewat pembuatan sekat bakar (firebreak) dan pemadaman darat.
Koordinator Humas Balai TNGC, Eska Nata Suryana mengungkapkan, medan terjal serta tebing berbatu menjadi tembok penghalang terbesar petugas di lapangan.
”Kondisi api hingga saat ini cukup meluas. Medan yang cukup sulit dan terjal sangat menyulitkan tim untuk melakukan pemadaman secara cepat. Mengenai total luas area yang terbakar, kami belum mengeluarkan estimasi angka pasti karena fokus utama saat ini adalah pemadaman penuh,” terang Eska.
Mengingat sulitnya jangkauan darat pada tebing-tebing curam, Pemkab Kuningan bersama Pemprov Jabar telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk menyiagakan opsi pemadaman via udara (water bombing) menggunakan helikopter.
Atensi Pimpinan Jabar dan Sinergi Daerah Tetangga
Bencana ini menyedot atensi pimpinan daerah. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bersama Sekda Jabar, serta Bupati dan Wakil Bupati Kuningan, turun langsung meninjau titik koordinat api sekaligus memberikan dorongan moral dan insentif stimulus bagi para petugas yang bertempur tanpa kenal lelah.
Tak hanya itu, dukungan penuh turut mengalir dari daerah tetangga. BPBD Kabupaten Cirebon menerjunkan 48 personel gabungan Damkar dan Tagana, lengkap dengan armada pompa alkon, toren air, serta dukungan logistik.
”Sinergi dan kerja sama lintas sektor sangat mutlak diperlukan agar pemadaman lebih efektif dan api segera padam. Tentu upaya bersama ini harus tetap mengutamakan keselamatan seluruh personel di lapangan,” tegas Sekda Jabar, Herman Suryatman.
Waspada Jalur Pendakian dan Posko Kesehatan
Dampak Karhutla yang meluas dari perkiraan awal lima hektare menjadi puluhan hektare membuat Pemkab Kuningan menyiagakan tim medis puskesmas di posko utama. Langkah ini dilakukan guna memantau stamina para relawan yang berhadapan langsung dengan asap pekat.
Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar mengimbau masyarakat dan para pendaki untuk meningkatkan kewaspadaan penuh serta menahan diri dari aktivitas yang memicu percikan api.
”Kalau api sudah menjalar ke lereng-lereng terjal dan berbatu, pemadaman darat sangat sulit dan berbahaya. Pohon dan rumput di sepanjang jalur pendakian saat ini sangat kering sehingga mudah tersulut angin. Kami imbau masyarakat tidak membakar sampah sembarangan,” tandas Dian.
Hingga berita ini diturunkan, perjuangan 742 petugas gabungan masih berlangsung sengit di lereng Gunung Ciremai, berpacu dengan waktu dan tiupan angin agar si jago merah tidak merembet ke kawasan hutan lindung. (JM)






