KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Gelombang protes mahasiswa kembali menggeliat di Jawa Barat. Sedikitnya 1.200 massa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Wilayah Jawa Barat bersama Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (KM ITB) menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran, didepan Gedung DPRD Jawa Barat, Kamis (13/6/2026).
Aksi yang diikuti oleh perwakilan dari 23 kampus di Jawa Barat ini menjadi klimaks dari akumulasi kekecewaan mahasiswa terhadap jalannya roda pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Koordinator BEM SI Jabar, Muhammad Risaldi menegaskan, aksi turun ke jalan ini merupakan bentuk kemarahan yang tak lagi membendung. Pasalnya, aspirasi yang selama ini disuarakan kaum intelektual kerap kali dinilai hanya masuk kuping kiri keluar kuping kanan.
”Hari ini ada sekitar 23 kampus dengan estimasi massa sekitar 1.200 lebih. Ini adalah bentuk kekecewaan dan akumulasi kemarahan kami yang sering kali bersuara tapi tidak didengarkan. Ditambah lagi dengan statement-statement dari Presiden Prabowo yang kami rasa tidak perlu dan tidak penting,” ujar Risaldi di sela-sela aksi.
Mahasiswa membawa simbolisasi pancungan. Risaldi menjelaskan, simbol tersebut sengaja dihadirkan sebagai representasi dari kejenuhan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai berjalan sewenang-wenang tanpa melibatkan partisipasi publik yang bermakna.
”Ini simbolisasi karena kami sudah muak dengan bobroknya pemerintah hari ini. Selama satu tahun lebih Prabowo-Gibran berjalan, tidak ada solusi atau langkah strategis untuk menyejahterakan rakyat. Kami ingin ‘memancung’ kesewenang-wenangan kebijakan mereka,” tegasnya.
Tidak hanya masalah ekonomi dan kebijakan, Risaldi juga menyoroti rapor merah penegakan demokrasi di era rezim saat ini.
”Di rezim kali ini, tercatat hampir 900 lebih tahanan politik. Kalau dikomparasikan dengan rezim-rezim sebelumnya, angka ini merupakan yang terbanyak,” tambahnya
Di tempat yang sama, perwakilan KM ITB, Nahdah Nabillah memaparkan empat poin utama yang menjadi sorotan tajam mahasiswa demi menyelamatkan kondisi perekonomian nasional dan mendorong daya beli masyarakat yang kian lesu.
”Pertama, kami menuntut tanggung jawab fiskal untuk memperbaiki tata kelola program ekstraktif, mengevaluasi Makan Bergizi Gratis (MBG), serta merealokasikan anggaran demi mendorong daya beli masyarakat dan industri manufaktur,” beber Nahdah.
Selain itu, KM ITB juga mendesak adanya akuntabilitas, strategi industrialisasi jangka panjang berbasis riset dan inovasi untuk resiliensi ekonomi, serta perbaikan sistem komunikasi internal pemerintahan agar tidak berbasis komoditas politik melainkan data yang nyata.
”Masyarakat butuh sesuatu yang berbasis data dan nyata supaya tidak terjadi polarisasi suara di bawah. Kita butuh mempertajam substansi isu,” kata Nahdah. (Jae)






