KANAL

Ketua PRSSNI Pusat: Mau Tetap Survive dan Seksi di Mata Pendengar, Radio Kudu Ada di Genggaman

×

Ketua PRSSNI Pusat: Mau Tetap Survive dan Seksi di Mata Pendengar, Radio Kudu Ada di Genggaman

Sebarkan artikel ini

KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Badai disrupsi digital benar-benar memaksa industri penyiaran radio di tanah air untuk putar otak. Di tengah ledakan pengguna internet dan dominasi smartphone, radio konvensional kini diwajibkan satset hijrah ke platform digital jika ogah gulung tikar ditelan zaman.

​Pesan menohok itu ditegaskan langsung oleh Ketua Umum Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Pusat, Muhammad Rafiq, di sela-sela gelaran Sidang Paripurna Daerah (SPD) PRSSNI Jawa Barat yang berlangsung dinamis di Kota Bandung.

​Menurut Rafiq, potret riil Indonesia hari ini menunjukkan angka yang fantastis sekaligus ngeri bagi industri media konvensional. Dari total sekitar 270 juta jiwa penduduk Indonesia, jumlah perangkat smartphone yang aktif berselancar di dunia maya justru melesat tembus di angka 350 juta unit.

​“Rumusnya cuma satu; kalau mau survive (bertahan hidup) dan tetap seksi di mata pendengar, radio wajib hadir di smartphone. Sekarang orang nonton TV dan baca koran sudah lewat HP. Jadi, radio juga kudu ada di dalam genggaman mereka,” tegas Rafiq

​Rafiq menilai, perubahan radikal cara masyarakat mengonsumsi informasi membuat sekitar 600 radio anggota PRSSNI di seluruh Indonesia tidak punya banyak pilihan selain buru-buru memperkuat taring digitalnya lewat layanan streaming.

​“Mau tetap hidup? Laksanakan transformasi digital sekarang juga. Kalau tidak, radio bakal semakin terseok-seok mempertahankan relevansinya di tengah perubahan zaman,” sentil Rafiq.

​Namun ingat, transformasi digital yang digaungkan ini bukan cuma urusan gaya-gayaan pasang fitur streaming. Jauh dari itu, radio wajib melek data kependengaran yang terukur.

​Hal tersebut diamini oleh jajaran Research and Development (R&D) PRSSNI Jawa Barat, Suseno Brotokusumo. Pihaknya kini tengah gencar mendorong radio-radio anggota untuk mulai mengelola database pendengar dalam satu sistem dashboard digital yang terintegrasi.

​“Jualan utama radio itu sebenarnya adalah pendengar. Kalau seluruh radio kompak terhubung dalam satu ekosistem data yang besar, ini akan jadi kekuatan baru (bargaining power) yang luar biasa bagi industri radio di mata pengiklan maupun pemerintah,” ungkap Suseno.

​Suseno tak menampik, salah satu dosa masa lalu industri radio tanah air adalah lambatnya merespons arus digitalisasi. Padahal, kajian akademis soal pentingnya hijrah ke digital sudah bergaung sejak satu dekade silam.

​“Andai transformasi ini dieksekusi 10 tahun lalu, mungkin posisi tawar radio hari ini jauh lebih perkasa dan bisa bersaing ketat dengan media-media raksasa lainnya,” sesalnya.

​Di wilayah Jawa Barat sendiri, potret pergerakan ini cukup dinamis. Dari total 103 radio yang tercatat sebagai anggota PRSSNI Jabar, sebanyak 82 radio terpantau masih aktif mengudara. Sayangnya, baru sekitar 62 radio yang sudah satset terintegrasi ke dalam sistem ekosistem digital yang sedang dibangun.

​Sebab itu, PRSSNI Jabar terus pasang badan menggenjot sisa anggota lainnya agar mempercepat adaptasi teknologi, memaksimalkan medsos, hingga mengulik data audiens secara presisi.

​Selain dihantam tantangan internal, Rafiq membeberkan bahwa industri radio saat ini juga tengah ‘dianaktirikan’ oleh regulasi. Media penyiaran lokal dipaksa bersaing bebas dengan raksasa platform digital global yang ironisnya tidak diikat aturan seketat radio dan TV nasional.

​Kendati demikian, optimisme tinggi tetap dihembuskan. PRSSNI Jabar berharap cetak biru pengembangan ekosistem digital radio dari tanah Pasundan ini bisa diadopsi menjadi program nasional.

​“Daripada kita capek-capek menjawab keraguan pasar soal eksistensi radio, lebih baik kita tampar mereka pakai data otentik. Kita buktikan kalau pendengar radio itu masih ada, massanya besar, dan tetap menjadi media paling efektif untuk menjangkau masyarakat hingga ke pelosok daerah,” pungkas Suseno (JM)