OPINI  

Meneroka Tren Dresscode dan Hampers

Fazrian
Fazrian Noor Romadhon | Program Magister Ilmu Komunikasi Kajian Media dan Budaya Universitas Jenderal Soedirman
Fazrian Noor Romadhon
Program Magister Ilmu Komunikasi Kajian Media dan Budaya
FISIP Universitas Jenderal Soedirman

Secara umum, kajian budaya (cultural studies) membahas tentang budaya populer atau biasa disebut dengan budaya pop. Bennett, budaya adalah bagian integral kehidupan sehari-hari yang tidak bisa dipisahkan. Lebih mudahnya, budaya dapat terlihat pada proses produksi dan konsumsi. Semisal, saat ini disaat hendak makan di suatu kafe, hal pertama yang dilakukan orang pada umumnya adalah menanyakan password WiFi. Bahkan, ketika makanan dihidangkan di meja pun, hal pertama yang dilakukan saat ini adalah memotretnya lalu membagikannya di media sosial. Disaat kita akan mengkonsumsi satu hal, disaat itu pula kita memproduksi budaya baru yang disadari atau tidak, hal itu sudah menjadi kebiasaan zaman saat ini. Maka dari itu, budaya pop dipahami sebagai tempat berinteraksinya kemampuan dan potensi kehidupan sehari-hari.

Dalam sudut pandang media, budaya dikatakan sebagai kajian tentang ‘rakyat berada’. Dalam artian, pada saat ini media menjadi penyebab utama terbentuknya budaya ditengah masyarakat. Berbagai aktivitas, wacana, hal remeh temeh sekalipun, media seringkali hadir didalamnya. Dengan demikian, tidak heran media dikatakan sebagai anak dari budaya. Dalam artian, keduanya memiliki kaitan erat satu sama lainnya.

Michael Ignatieff, menyampaikan bahwa media tidak hanya dapat merubah budaya, melainkan juga merubah kesadaran diri hingga merubah pemahaman tentang kewajiban terhadap orang lain. Sehingga tidak heran, media pada dasarnya membawa dampak perubahan dan membuat kebiasan/budaya baru bagi berbagai hal. Sebab ini pula, media menjadi pusat kajian yang sangat penting berkaitan dengan relasi sosial-budaya. Bahkan jauh lebih dalamnya, media menjadi salah satu saluran yang memungkinkan untuk menyadari dan memahami persoalan moral dan kewajibannya.

 

Tren Mengenakan Dresscode Saat Berbuka dan Berbagi Hampers

Suatu budaya, terlebih budaya baru (new culture), tidak hanya terbentuk berdasarkan kebiasaan-kebiasaan lama atau aturan dan norma yang berlaku. Jauh lebih dalam, budaya baru terlahir dari hadirnya perkembangan media yang membentuk suatu budaya baru hingga gaya hidup. Tidak sedikit, banyak budaya baru yang bermunculan, yang kemudian dipahami dan dilakukan oleh orang-orang, sebagai upaya mengikuti tren. Dua di antara budaya baru yang berkembang itu adalah menghadiri suatu momen dengan mengenakan pakaian yang sudah ditentukan (dresscode) dan berbagi bingkisan atau familiar disebut dengan hampers atau parsel, entah itu isinya kebutuhan sandang, pangan, atau pernak-pernik menjelang lebaran.

Cukup banyak ajakan buka bersama pada bulan Ramadan sekarang. Dari mulai lingkup pertemanan bermain, kuliah, hingga pekerjaan. Yang berbeda, beberapa dari ajakan tersebut, mensyaratkan mengenakan pakaian tertentu yang sudah ditentukan (dresscode) oleh panitia atau kesepakatan bersama. Ada yang mensyaratkan mengenakan pakaian serba hitam, atasan putih dan bawahan coklat susu, gamis, dan masih banyak lagi.

Jika diamati sekilas, untuk sekadar berbuka puasa bersama saja, mengapa harus disyaratkan dalam hal berpakaiannya juga?. Alih-alih berbuka puasa bersama untuk saling bersilaturahmi dan bernostalgia masa-masa sekolah, yang terjadi justru upaya memenuhi kebutuhan gaya hidup dan pengakuan identitas seperti, membuat konten TikTok dengan mengikuti tren yang sedang hype, kemudian mengunggahnya ke dalam media sosial.

Dresscode seketika menjadi kebutuhan penunjang gaya hidup yang, mau tidak mau, terbentuk dengan sendirinya seiring dengan perkembangan media. Dengan seketika pula, momen buka bersama menjadi ajang unjuk pakaian bagi setiap individu. Bahkan tidak sedikit yang rela membeli baju yang sesuai dengan dresscode hingga menggunakan jasa Make Up Artist.

Tidak hanya itu. Berbagi bingkisan atau familiar disebut parsel dan hampers pun, semakin terbiasa di kalangan teman, rekan kerja, dan sanak saudara. Isinya beranekaragam seperti makanan ringan, makanan basah, pakaian, hingga satu set cangkir. Tidak lupa, disertai catatan kecil yang berisi pesan singkat dari pengirim. Sesampainya bingkisan tersebut ke penerima, penerima dengan senangnya mengunggahnya ke media sosial sebagai ucapan terima kasih. Tidak lupa juga, penerima menandai unggahannya tersebut kepada pengirim tadi. Dengan harapan, unggahannya tersebut diunggah ulang oleh pengirim. Disadari atau pun tidak, siklus berbagi hampers di tengah perkembangan media, menjadi bias namun juga lucu. Berbagi saat ini seolah-olah harus diakui dan diketahui oleh orang lain, juga tidak menjadi hal privasi yang hanya diketahui antara pemberi dan penerima.

Fenomena-fenomena diatas, lumrah terjadi di tengah perkembangan media dan teknologi seperti saat ini. Media menjadi salah satu pembentuk budaya-budaya baru yang upredictable. Maka, benar apa yang disampaikan oleh Bennet, budaya adalah bagian integral kehidupan sehari-hari yang tidak bisa dipisahkan yang dapat terlihat pada proses produksi dan konsumsi. Melalui proses produksi dan konsumsi tersebut, sederhananya budaya dapat terlihat dan terbentuk karena dukungan media. Media menjadi satu pendong yang menyebabkan terbentuknya budaya baru, bahkan mengabaikan budaya-budaya lama. Ada pergeseran atau pergantian kultur yang berbeda makna.

Tentu, fenomena budaya dengan media di atas tidak  dapat dipungkiri. Akan tetapi, pada dasarnya setiap orang adalah pelestari sebuah tradisi (kultur) dan kulturalisme dalam hal ini merupakan situasi lingkungan tempat berkembangnya suatu tradisi. Kulturalisme tidak pernah dapat dilepaskan dari adanya sistem kepercayaan serta kebiasaan yang dianut dan berkembang dalam suatu masyarakat. Sederhananya, selama hal-hal di atas masih berlaku di kalangan masyarakat, hal yang harus pertama diperhatikan adalah diri kita sendiri yang merupakan sebagai pencipta dan pelestari budaya tersebut. Karena suatu budaya, akan tetap lestari dan berkembang, sesuai dengan perkembangan zaman juga orang yang melestarikannya.

Berawal dari kebiasaan yang membuahkan suatu budaya itulah, masyarakat perlu menerapkan local genius. Local genius dalam beberapa literatur dijelaskan bahwa suatu kemampuan masyarakat untuk menerima, memilah dan memilih, serta mengambil kebudayaan dari  luar yang dianggap baik. Maka, selama fenomena budaya di atas dinilai dan diterima baik oleh masyarakat, hal tersebut tidak menjadi masalah. Akan tetapi, selama fenomena budaya di atas tidak diterima oleh masyarakat karena mampu menghilangkan norma-norma juga makna lainnya yang positif, masyarakat dalam hal ini produsen dan konsumen, perlu selektif dalam menerima perkembangan media.

Tentu sulit untuk tidak menerima perkembangan media di tengah era globalisasi dan modernisasi saat ini. Akan tetapi, selama produsen dan konsumen saling memahami nilai norma, etika, serta moral, filterisasi perkembangan media akan berjalan walaupun secara perlahan dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Perkembangan media yang membuahkann suatu budaya baru pun akan semakin tertata dengan baik. Tidak ada norma serta etika baik yang ditinggalkan, hanya demi sebuah pengakuan terhadap budaya baru hasil konstruksi media.