Muktamar ke-34: Menuju Satu Abad Nahdlatul Ulama

  • Bagikan

Oleh Usman Kusmana

Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama yang digelar tanggal 22-23 Desember 2021 di Lampung menjadi perhelatan yang menarik perhatian nasional, bahkan internasional.

Meskipun dinamika awal dalam penentuan waktu pelaksanaannya cukup membuat sedikit tegang kaum nahdliyin, akan tetapi pada akhirnya NU selalu punya cara sendiri menyelesaikannya.

Di lingkungan NU dikenal tradisi menyelsaikan dinamika dari yang tadinya “gegeran” menjadi “ger-ger an” atau dari kesan pertikaian menjadi senda gurau. Siapapun yang menyikapi dinamika di jamiyyah NU secara serius dalam nuansa gegeran dia akan melipir dengan sendirinya.

Kemarin bagaimana kita bisa membaca munculnya 2 kutub yang seolah vis a vis antara kubu syuriyah dan kubu tanfidziyah dalam hal penentuan waktu pelaksanaan muktamar Lampung tersebut. Karena di dalamnya ada kelindan dengan kandidat calon ketum kedepan, yaitu Kh Said Aqil Siradj dan Kh. Yahya Cholil Staquf, maka tarik menarik jadwal dengan segala bunyi-bunyian dari kedua kutub hangat terdengar.

Kutub Rois ‘am minta di percepat, kubu ketum tanfidziyah karena pertimbangan PPKM Covid 19 (yang akhirnya di batalkan oleh pemerintah) mengarah kepada pengunduran jadwal hingga 31 Januari 2022 bertepatan dengan Harlah NU. Gegeran itu akhirnya bisa di selesaikan secara ger ger an dengan tetap menggelar Muktamar ranggal 22-23 Agustus dengan mempertimbangkan semya prosedur penanganan dan penerapan Prokes covid 19.

Dalam sejarah perjalanan jamiyyah Nahdlatul Ulama selalu diwarnai dinamika gegeran yang berujung ger-ger an. Tapi Nahdlatul Ulama adalah organisasi yang di dirikan dengan restu, berkah dan proses tirakat para masayikh ulama Indonesia. Selalu berhasil keluar dari situasi sulit baik karena faktor internal maupun gangguan eksternal (baca terutama kekuasaan).

Muktamar NU ke 34 di lampung ini merupakan forum tertinggi bagi jamiyyah NU, forum berkumpulnya para masyayikh, para ulama, para pengurus, para aktifis dan muhibbin NU, di dalamnya akan membahas banyak hal menyangkut permasalahan organisasi NU kedepan, permasalahan keummatan, kebangsaan dan isu-isu kekinian. Juga akan dilakukan pemilihan kembali pimpinan NU untuk periode 4 tahun kedepan.

Tentu ada banyak tantangan dan permasalahan yang harus disikapi dan dihadapi oleh Organisasi dengan anggota diperkirakan mencapai 100 juta orang. Tapi semuanya mengerucut pada 3 isu utama. Yaitu tema Keislaman, Keindonesiaan dan Kerakyatan.

Organisasi NU harus terus menjelma menjadi garda terdepan yang menjaga keajegan nilai-nilai dan Ajaran Islam Ahlussunah Wal Jamaah, baik secara aqidatan, syariatan, akhlaaqan, manhajan, haraakatan, bahkan siyyasiyyatan. Yang karenanya berkelindan dengan spirit keIndonesiaan dalam menjaga bangsa dan negara ini tetap dalam bingkai Pancasila dan NKRI. Bangsa yang mencerminkan daarus salam bukan daarul Islam. Sebagaimana di amanatkan oleh para founding fathers yang didalamnya juga ada para Ulama.

Saat ini NU dihadapkan pada tantangan gerakan ideologi trans nasional yang membawa muatan aqidah salafisme wahabisme dan pan islamisme dengan tujuan politik sebagai targetnya. Ideologi transnasional ini identik dengan radikalisme, merasa paling islam sendiri, menganggap pemahaman keislamannya sebagai tafsir paling benar. Sehingga siapapun kelompok diluar dirinya harus di basmi dan di tumpas.

Fenomena itu nyata terlihat di Libia, Yaman, Suriah, Irak dll. Hingga negara itu terbelenggu dalam peperangan antar bangsa sendiri yang berkepanjangan, tak ada ketenangan dan kedamaian. Nyawa swdemikian murah harganya. Mereka hidup dalam ketidakmenentuan, ketakutan dan bahkan kelaparan.

Peran Jamiyyah NU selama ini telah nyata terbukti menjadi elemen paling depan dan keras menghadapi kelompok tersebut. Wacana Islam Washatiyah, moderasi Islam, Islam yang moderat, ramah dan santun, toleran seakan identik dengan jamiyyah NU.

Memang NU menjalankan misi perjuangannya menegakkan Islam Ahlussunnah wal jamaah dengan prinsip-prinsip Tawasuth (moderat), Tasamuh (Toleran), tawazun (Seimbang) dan I’tidal (tegak lurus). Selalu menjaga dan mendakwahkan nilai ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim), Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan sesama anak bangsa) dan ukhuwah Insaniyah/Basyariah (persaudaraan sesama manusia).

Nahdlatul Ulama Sebagai organisais keagamaan dan sosial kemasyarakatan (Jami’iyyah diniyyah wal intimaiyah) pada tahun 2026 akan berusia 1 abad. Kedidupan saat ini berubah sedemikian cepatnya dalam berbagai hal. NU tentu harus menjadi organisasi yang selalu mengikuti irama zaman dengan selalu memegang prinsip “Al muhaafadzatu alal qadiim ash shaalih wal akhdzu bil jadiidil ashlaah” manjaga tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.

Tantangan kehidupan dalam berbagai kehidupan harus di sikapi oleh NU dengan rumusan program dan kebijakan yang mencerminkan spirit kemajuan, kandirian dan keberjamaahan.

Penyiapan Sumber Daya Manusia menjadi kata kuncinya. Bahwa NU hari ini sudah merambah dan memperkuat lembaga pendidikannya tidak hanya Pondok Pesantren sebagai lembaga pencetak kadernya, akan tetapi kini berdiri banyak Perguruan Tinggi di bawah naungan NU. Baik universitas maupun sekolah tinggi.

Banyak kader muda NU yang mobilitas pendidikannya begitu cepat, dari yang awalnya santri sarungan, kini ada ribuan doktor atau kandidat doktor yang sekolah di universitas ternama di berbagai belahan dunia. Hingga kini berdiri juga banyak Pengurus Cabang Istimewa di negara-negara di dunia.

Dengan kesadaran kolektif para pemangku kebijakan di Jamiyyah NU, kini NU menjadi organisasi yang benar-benar sangat di perhitungkan di dalam negeri maupun luar negeri sekalipun. Delegasi negara luar antri menemui jajaran PBNU. Para elit politik lintas parpol pun demikian.

Muktamar NU ke 34 di Lampung kali ini kiranya menjadi momentum penting bagi semua jajaran Masyayikh, para pengurus di semua tingkatan, para kader untuk benar-bemar siap menghadapi tantangan Satu Abad Nahdlatul Ulama.

Muktamar NU mampu menghasilkan rumusan produk, bagaimana Jamiyyah ini dibawa kedepan, bagaimana peran NU dalam menjaga KeIslaman dan Keindonesiaan, bagaimana Jamaahnya di urus dan di ayomi. Bagaimana Muktamar ini juga melahirkan pemimpin NU kedepan yang sesuai dengan tantangan zamannya.

Selamat dan Sukses Muktamar NU ke 34 di Lampung. Semoga berkah untuk semua.

Penulis Ketua LTN NU Kab Tasikmalaya,
Makasiswa S3 Unpas Bandung.

  • Bagikan