Para Orang Tua Meminta Polres Tasikmalaya Membebaskan Anaknya

  • Bagikan
Para orang tua massa aksi yang ricuh di kantor Kejari Kabupaten Tasikmalaya menjenguk anak-anaknya di Mapolres Tasikmalaya, Mangunreja. Sementara anggota kepolisian masih terus melakukan pemeriksaan. (Foto: kapol.id/Amin R. Iskandar)

KAPOL.ID–Sudah satu malam massa aksi yang berujung ricuh di kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Tasikmalaya menginap di Mapolres Tasikmalaya, Mangunreja. Para orang tua pun menjenguk anak-anaknya seraya memohon pembebasan, Selasa (12/7/2021).

Sejauh pantauan kapol.id, anak-anak girang menyambut kedatangan orang tuanya. Walaupun mereka mendapat omelan karena telah menyebabkan kekhawatiran. Lagipula anak-anak tersebut tidak meminta izin untuk ikut aksi di Kejari.

Tuti, salah satu orang tua peserta massa aksi mengaku anaknya meminta izin untuk main pada pagi hari. Bahkan meminta bekal buat jajan. Tau-tau mendapat informasi anaknya diamankan Polres Tasikmalaya karena terlibat ricuh di kantor Kejari.

“Kamu nggak kasihan sama ibu sama bapak? Kenapa jadi gini? Ibu mah nyesel sudah bangunin kamu pagi kemarin téh, biar kamu tidur aja,” Tuti mengomeli anaknya.

AR (14) begitu mendapat omelan ibunya langsung menangis sambil memohon maaf. Ia menggenggam erat tangan ibunya, bahkan hampir saja bersujud di kaki ibunya. Kemudian memeluk ibunya dengan erat.

“Maafin ade, Bu. Ade janji sama Allah, ade tidak akan mengulangi lagi. Enggak bakal ikut-ikut demo lagi,” pinta AR.

Orang tua yang lain, Rahmat Edi mengaku mendapat kabar anaknya yang berusia 14 tahun berada di Mapolres Tasikmalaya Senin (12/7/2021) malam. Kira-kira pukul 22.00 WIB.

“Istri yang kaget mah. Saya mah lagi tidur, dibangunin sama istri. Istri saya dikasih tahu bahwa harus ke kantor polisi, tidak bisa diwakilkan, harus sama orang tuanya,” ujar Rahmat.

Rahmat menekankan bahwa anaknya tidak pernah meminta izin tiap kali bepergian, ke mana pun. Kalaupun anaknya minta izin untuk menggelar aksi, pasti akan dicegahnya.

“Ya enggak atuh, kalau meminta izin mah. Karena masih di bawah umur. Buat apa imut demo, kalau masih kecil mah,” lanjutnya.

Tuti dan Rahmat juga mengonfirmasi bahwa anak-anak mereka tidak mondok atau bukan santri. Tetapi juga tidak mengetahui awal mula mereka bergabung dengan komunitasnya. Tahunya, kata Rahmat, anak-anak suka bilang mau salatawan.

Karena yakin anak-anak tersebut tidak bersalah, sekadar menjadi korban orang tang bertanggungjawab yang mengajaknya; Tuti dan Rahmat sama-sama memohon pihal kepolisian membebaskan mereka. Biar mereka mendidiknya lebih baik lagi.

“Saya mau jemput anak saya. Alhamdulillah Pak polisinya baik. Anak saya dikasih makan kok di sini. Katanya juga akan dipulangkan anak saya itu, tapi harus menjalani pemeriksaan dulu. Harapan saya juga gitu, dibebaskan. Biar ini menjadi pelajaran bagi anak saya,” Rahmat menandaskan.

  • Bagikan