KAPOL.ID –
Setelah melalui berbagai ujicoba Pondok Pesantren Raudhatul Irfan Desa Kertaharja Cijeungjing Ciamis membudidayakan jamur merang dari olahan limbah aren.
Meskipun jatuh bangun dalam lima tahun terakhir, upaya tersebut mulai membuahkan hasil.
“Awalnya di sekitar lingkungan banyak sekali limbah dahan aren yang dijadikan tepung aren. Kita ujicoba menjadi pakan sapi dan ikan, namun hasilnya kurang maksimal.”
“Setelah itu mencoba mengolahnya menjadi media tanam jamur,” ungkap pengasuh Pondok Pesantren Raudatul Irfan, DR. Irfan Soleh, S.Th.I, MBA, Selasa (5/7/2022).
Berbekal informasi dari google, pihaknya pun melakukan ujicoba jamur merang di Karawang. Saat itu pembudidaya kekurangan media tanam.
“Ujicoba di Karawang, ternyata hasilnya lebih baik ketimbang menggunakan sekam. Lalu memberanikan diri di sini.”
“Karena perbedaan suhu, formulanya belum dapat sampai beberapa kali mencoba. Selama enam bulan kita rugi,” paparnya.
Pihaknya juga banyak berkonsultasi dengan LIPI, profesor pertanian sampai akhirnya berhasil mengembangkan limbah aren menjadi media tanam jamur merang.
“Waktu tahun 2019, produksi jamur merang berhasil menjadi juara one product one pesantren (OPOP) dari Pemprov Jabar.”
“Dari 1-2 kumbung, sekarang sudah ada 25 kumbung jamur. Setiap hari panen 80-100 kg jamur merang dan dikirim ke beberapa Pasar Tradisional di Bandung,” jelasnya.
Meskipun begitu, tantangan belum berakhir. Jamur memiliki karakter mudah rusak jika hanya dijual secara konvensional. Otomatis akan berpengaruh pada harga di pasaran.
“Harga yang diterima pasar Rp 35-45 ribu per kilogramnya. Itu grade terbaik. Kalau berlama-lama bisa turun grade, otomatis harganya lebih murah,” katanya.
Lalu pihaknya pun mulai belajar mengemas jamur dalam kaleng. Dalam beberapa tahun ini banyak mendapatkan pesanan dari luar daerah hingga mancanegara.
“Kita sudah mendapat bantuan mesin dari Bank Indonesia Tasikmalaya untuk pengemasan dan fasilitasi sertifikasi halal.”
“Sebenarnya toko modern sudah menawarkan agar produk jamur merang kemasan ini. Hanya saja kita sedang memproses Halal dan POM-nya,” ucapnya.
Bank Indonesia Tasikmalaya
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya, Nurtjipto mengatakan, bantuan tersebut merupakan bagian dari membangun kemandirian pesantren.
Apresiasi atas ketekunan selama ini dari limbah menjadi media tanam. Lalu yang sudah tidak terpakai menjadi pupuk organik untuk tanaman lain di kebun.
“Tadi ada untuk pupuk pepaya California dan pisang. Artinya ini ekonomi hijau, tidak menghasilkan limbah apapun.”
“Ini sangat luar biasa, kita Bank Indonesia bisa ikut membantu juga untuk kemandirian pesantren,” ujarnya.***











