KABAR PRIANGAN ONLINE – Hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMPN 1 Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Senin (13/7/2026), berlangsung penuh kehangatan. Alih-alih diwarnai ketegangan, momentum penyambutan siswa baru yang diinisiasi oleh Pengurus OSIS sekolah tersebut justru memanen apresiasi luar biasa dari para orang tua murid berkat pendekatannya yang humanis dan bersahaja.
Pola penyambutan yang kreatif dan sarat nilai kesantunan ini dinilai berhasil menciptakan atmosfer sekolah yang inklusif sejak hari pertama.
Sentuhan Humanis yang Menepis Sekat Senioritas
Azis Abdullah, salah satu orang tua siswa baru, tidak dapat menyembunyikan rasa bangganya saat mendampingi sang anak. Menurutnya, langkah yang diterapkan pihak sekolah melalui OSIS merupakan sebuah terobosan yang cerdas dan presisi dalam membangun karakter remaja.
“Luar biasa, tidak semua sekolah mampu menerapkan pola sedekat dan sehangat ini. Sebagai orang tua, kami merasa sangat bangga dan tenang,” ungkap Azis penuh antusias.
Azis menceritakan, atmosfer kekeluargaan sudah langsung terasa sejak proses daftar ulang dimulai. Para pengurus OSIS dengan sigap dan ramah menyapa, lalu mengantarkan para orang tua serta siswa baru menuju ruang kelas masing-masing.
Menurut Azis, pendekatan persuasif seperti ini menjadi benteng pertahanan dini yang efektif untuk memutus rantai tradisi negatif di lingkungan pendidikan.
“Kami optimis, lewat penanaman nilai humanis antarsiswa yang kuat sejak dini, hal-hal negatif seperti tawuran maupun aksi perundungan (bullying) dapat ditangkal bersama,” tambahnya.
Senada dengan Azis, apresiasi tinggi juga datang dari Darli, warga Sukasari yang anaknya turut menjadi bagian dari keluarga besar SMPN 1 Tanjungsari.
Ia bersaksi bahwa raut kecemasan yang biasa menggelayuti siswa baru seketika sirna, berganti dengan pancaran wajah bahagia dan rasa nyaman.
Kalimat bertajuk “Selamat datang, Adik…” yang diucapkan dengan senyum tulus oleh para senior di gerbang sekolah, diakui Darli menjadi pemantik rasa percaya diri yang luar biasa bagi anaknya.
“Kalimat itu sederhana, tapi maknanya sangat dalam dan bernuansa santun. Itu hal pertama yang didengar anak saya saat melangkahkan kaki melewati gerbang,” tutur Darli haru.
Melalui momentum MPLS yang humanis ini, harapan besar pun digantungkan. Tradisi positif ini diharapkan mampu menjaga reputasi sekolah agar tetap menjadi role model pendidikan di Sumedang.
“Semoga SMPN 1 Tanjungsari tetap konsisten menjadi sekolah istimewa di Kota Tahu ini, dengan jargon kesantunan antarsiswa yang terus dijaga kelestariannya,” pungkas Darli optimis.***












