Terhubung dengan KAPOL

BUDAYA

Sentuhan Tangan Anton Charlian di Leuwisari dan Sariwangi; Kawasan Wisata Batu Mahpar dan Pemakaman Walahir

|

Gerbang menuju pemakaman Walahir bagian dalam, tempat makam tua berada dan sekian makam yang dipugar. (Foto: sukamulih.sideka.id).

KAPOL.ID–Kawasan wisata Batu Mahpar, tempat ditemukannya 23 batu berukir, bukan satu-satunya tempat yang “disentuh tangan” Anton Charlian, pemiliknya.

Setahun sebelum pembukaan kawasan wisata Batu Mahpar, Charlian lebih dulu menyelesaikan pemugaran atau penggalian pemakaman Walahir.

Pemakaman Walahir terletak di Kampung Walahir, Desa Sukamulih, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya. Tidak jauh dari Kawasan Wisata Batu Mahpar. Beberapa ratus meter ke arah utara. Jalannya menanjak.

Pemakaman Walahir terdiri atas dua klasifikasi; pemakaman jenazah warga setempat dan pemakaman jenazah leluhur. Kini, ada benteng yang memisahkan keduanya. Bagian luar pemakaman klasifikasi pertama, yang lainnya di bagian dalam.

Pada plakat peresmian pemugaran dan penggalian makam Walahir, tertanda Kijang Suryatman (Ketua Panitia) dan Anton Charlian (Kapolda Jabar masa itu), dengan titimangsa 21 Agustus 2017; terbaca sebanyak 900 makam dan tujuh batu besar (posisi berdiri tegak) telah direkontruksi.

Pada titik tertentu, pemugaran pemakaman Walahir juga berhubungan dengan batu (sama seperti arca). Jumlahnya bahkan jauh lebih banyak.

Setiap makam di bagian dalam benteng ditata dengan rapi. Semua seragam: berjirat tiga lapis berundak serta nisan dengan konsep utara-selatan.

Untuk model nisannya sendiri, dalam istilah peneliti Yayasan Tapak Karuhun Nusantara, menggunakan nisan gelung (maek).

Artinya, ada lengkungan pada bagian kepala nisan, dengan posisi saling berhadapan (ke bagian dalam).

Tepatnya, lengkungan nisan bagian kepala menghadap selatan, nisan satunya lagi menghadap utara.

“Nisan makam merupakan tipe lokal terbuat dari batu alam sebagai ciri tradisi megalitik. Jiratnya menunjukan kesan adanya undakan yang kemungkinan ditata meniru pada makam yang di sakralkan sebelumnya, yang telah ada di sini,” ujar Pandu, peneliti dari Yayasan Tapak Karuhun Nusantara.

Penataan Pemakaman Walahir dan kawasan wisata Batu Mahpar sendiri menyuguhkan dua dimensi yang jelas berbeda. Pemakaman Walahir identik dengan kesunyian dan malam hari. Sebaliknya, kawasan wisata Batu Mahpar identik dengan keramaian dan siang hari.

Dengan penemuan arca di kawasan wisata Batu Mahpar, kedua tempat tersebut kini terikat oleh satu material: batu kuna. Apalagi, rencananya, 23 batu berukir itu, akan disimpan di museum dalam kawasan wisata Batu Mahpar.

Diskusikan di Facebook

Silakan mengirim pesan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *