Terhubung dengan KAPOL

BUDAYA

Agus, Salah Satu Peziarah Saksi Mata Penataan Pemakaman Walahir

|

Agus, seorang peziarah (posisi berdiri), menelusuri pemakaman Walahir bersama KAPOL.ID dan Yayasan Tapak Karuhun Nusantara; Selasa (11/2/2020). (Foto: Amra Iska).

KAPOL.ID–Pada saat proses penggalian berlangsung (2017), Agus, seorang peziarah, begitu kebetulan bisa berada di lokasi. Sejauh pengetahuannya, dari ratusan makam yang dipugar; di bagian dalam pemakaman Walahir sebelumnya cuma ada tiga makam. Sisanya, dibuat pada waktu pemugaran.

“Setahu saya, dari tiga makam itu, yang dua adalah makam leluhur, yaitu Ambu Sumaerah dan Eyang Haji Sembah Dalem Wirahadikusumah. Yang satu mungkin makam warga biasa,” ujar Agus.

Makam Ambu Sumaerah, salah satu makam terua di pemakaman Walahir. (Foto: Amra Iska).

Satu makam yang disebutkan warga biasa oleh Agus, hingga kini kondisinya tidak mengalami perubahan. Tidak menggunakan batu, melainkan tembok. Jiratnya pun tidak tiga lapis berundak. Posisinya sebelah timur makam Ambu Sumaerah.

Sebenarnya, Agus juga pernah dapat cerita, kalau di gawir ada satu makam lagi. Tapi tidak banyak yang menziarahi. Selain karena suasananya menueramkan, juga konon, itu makam orang non muslim.

Sisi lain yang menarik, pascapemugaran, di kompleks pemakaman Walahir ada banyak makam dengan nama-nama besar dari zaman Kerajaan Sunda–termasuk di dalamnya Kerajaan Galunggung.

Sebut saja beberapa: Eyang Ganasoli, Eyang Semprana, Eyang Sapta, Syeh Nur Jati, Prabu Kian Santang (dengan nama lainnya, Gagak Lumayung), Prabu Sempak Waja, Prabu Kuncung Putih, dan sejumlah nama lainnya.

Makam Syeh Nur Jati, yang menurut Agus, salah satu makam yang nyaris tidak pernah ditemukan sebelum pemakaman Walahir dipugar. (Foto: Amra Iska).

Atas pemugaran pemakaman Walahir itu, peneliti Yayasan Tapak Karuhun Nusantara mengapresiasinya, terutama sebagai salah satu bentuk dari gerakan kebudayaan. Bahkan memiliki potenai untuk wisata pemakaman. Hanya saja, perlu ada kejelasan narasi yang mengikutinya.

Kejelasan narasi itu dianggap penting, supaya tidak mengaburkan nilai-nilai dan fakta-fakta sejarah. Sejarah tentang keabsahan makamnya itu sendiri, serta asal-mualasal sekian batu–termasuk menhir–yang ada di sekitarnya.

Selain Agus, Dede Tatang (60) juga menyinggung pemakaman Walahir. Menurutnya, pemakaman tersebut memang terkenal angker sejak lama. Warga setempat tidak berani sembarangan memasukinya.

“Baru setelah Galunggung meletus, taun 1982, tidak begitu dianggap angker lagi. Enggak tahu kenapa. Mungkin hantunya pada mati,” ujar Dede setengah bercanda.

Satu hal yang masih melekat sejak dulu hingga kini, pemakaman Walahir masih dikunjungi banyak peziarah. Bahkan ada juga yang masih suka menyediakan sesajen.

Para peneliti dari Yayasan Tapak Karuhun Nusantara di antara makam dalam pemakaman Walahir. (Foto: Amra Iska).

Pada saat KAPOL.ID menelusuri pemakaman Walahir, bersama Yayasan Tapak Karuhun Nusantara, Selasa (11/2/2020); ada sesajen berupa kelapa muda berdampingan dengan dua gelas kecil.

Sesajen terletak tidak jauh dari makam Ambu Sumaerah, di bawah pohon enau tua. Selain itu, dari ratusan makam yang ada, pada saat yang sama, cuma makam Ambu Sumaerah yang di atasnya tertaburi bunga; yang tampaknya baru ditaburkan.

Diskusikan di Facebook

Silakan mengirim pesan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *