KAPOL.ID – Rangkaian kegiatan Sumedang Ngabatik 2026 resmi ditutup oleh Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir. Bertempat di Pendopo Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang. Minggu (20/9/2026),
Kegiatan yang mengusung tema “Sumedang dalam Motif Batik: Sejarah, Budaya, Alam dan Kearifan Lokal” tersebut merupakan rangkaian kegiatan yang diinisiasi Anggota Komisi XI DPR RI Galih Dimuntur Kartasasmita bersama Yayasan Batik Indonesia (YBI) Gita Kartasasmita serta Galih Muda Berdaya (GMB).
Rangkaian Sumedang Ngabatik 2026 terdiri atas tiga kegiatan utama, yakni lomba desain batik, pelatihan membatik, serta lomba karya batik tulis khas Kasumedangan.
Ketua Pelaksana Pelatihan sekaligus Pengurus GMB, Cecep Yanyan, mengatakan, Sumedang Ngabatik 2026 berawal dari obrolan ringan antara Galih Dimuntur Kartasasmita dengan Agus Kori Hidayat yang saat itu menjabat sebagai Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sumedang.
“Dari obrolan tersebut Kang Galih berkomitmen untuk mendorong pengembangan batik Sumedang. Setelah hampir delapan bulan, akhirnya diputuskan untuk menggelar kegiatan Sumedang Ngabatik 2026,” ujar Cecep.
Ia menjelaskan, kegiatan pertama berupa Lomba Desain Batik Kasumedangan yang dilaksanakan pada 13 Juli hingga 9 Agustus 2026 dan diikuti 50 peserta. Peserta terbagi dalam kategori umum dan pelajar.
Selanjutnya, pelatihan membatik digelar selama tiga hari, 14-16 Agustus 2026, di Aula Asrama Haji Islamic Center Sumedang. Pelatihan tersebut diikuti 52 peserta yang merupakan perwakilan dari tujuh sanggar batik di Kabupaten Sumedang.
“Pelatihan ini menjadi bagian penting untuk meningkatkan kemampuan para pengrajin dalam membuat karya batik tulis,” katanya.
Tahap ketiga yakni Lomba Karya Batik Tulis Khas Kasumedangan, yang berlangsung sejak 10 Agustus hingga 17 September 2026. Lomba tersebut diikuti 30 peserta dengan menggunakan desain juara pertama kategori umum sebagai master utama lomba.
Pada puncak kegiatan, diumumkan para pemenang lomba karya batik tulis. Juara pertama diraih Ina Mariana dari Sanggar Batik Rumah Batik Sumedang/Sanggar WK, juara kedua Nafisa Sariningsih dari Nafira Batik, dan juara ketiga Noneng Sri Jumianti dari Nafira Batik.
Sebagai bentuk apresiasi, juara pertama lomba membatik juga akan diberangkatkan untuk mengikuti kegiatan Hari Batik Nasional di Surabaya.
Cecep berharap rangkaian Sumedang Ngabatik 2026 dapat menjadi awal baru bagi pengembangan batik Sumedang, termasuk lahirnya sanggar-sanggar batik baru yang memiliki komitmen terhadap pelestarian budaya sekaligus pengembangan ekonomi kreatif.
Sementara itu, Inisiator Sumedang Ngabatik 2026 sekaligus Anggota Komisi XI DPR RI, Galih Dimuntur Kartasasmita, mengatakan kegiatan tersebut merupakan rangkaian program yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan sekaligus mendorong lahirnya karya batik khas Sumedang.
Menurutnya, setelah lomba desain dan pelatihan membatik, tahapan berikutnya adalah lomba karya batik tulis yang diikuti para pengrajin dari berbagai sanggar di Kabupaten Sumedang.
“Harapannya ke depan Sumedang memiliki indikasi geografis tentang batik Kasumedangan. Kemudian para juara ini akan didorong untuk mengikuti berbagai event dan pameran batik di tingkat nasional,” kata Galih.
Ia menyebut pelaksanaan kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Yayasan Batik Indonesia yang diketuai Gita Kartasasmita, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Himbara, serta berbagai pihak lainnya.
Galih juga berharap karya yang lahir dari Sumedang Ngabatik 2026 dapat terus dikembangkan hingga menjadi motif yang memiliki ciri khas dan identitas kuat sebagai batik Kasumedangan.
Hal senada disampaikan Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir. Ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Galih Dimuntur Kartasasmita atas inisiatif menyelenggarakan Sumedang Ngabatik.
“Saya haturkan terima kasih setinggi-tingginya atas inisiasinya menyelenggarakan kegiatan Sumedang Membatik. Kegiatan ini sangat bermakna, bermanfaat, dan berdampak,” ujar Dony.
Menurutnya, ruang kreativitas seperti Sumedang Ngabatik perlu terus diperbanyak agar para perajin, khususnya generasi muda, memiliki wadah untuk berkarya dan mengembangkan kemampuan.
“Dengan ruang kreativitas ini, saya yakin akan terus menginspirasi dan memotivasi para pembatik di Kabupaten Sumedang, bahkan bisa terus menghasilkan generasi penerusnya,” katanya.
Dony menilai pencipta budaya bukan hanya mereka yang mempertahankan warisan leluhur, tetapi juga mereka yang mampu melakukan pembaruan sehingga budaya tetap hidup dan relevan dengan perkembangan zaman.
“Melestarikan budaya lama yang baik dan menggali budaya baru yang lebih baik,” ujarnya.
Dony berharap Sumedang Ngabatik menjadi titik awal lahirnya identitas batik yang benar-benar merepresentasikan karakter dan kekhasan Kabupaten Sumedang.
Ia mengatakan perlu ada upaya untuk menentukan ciri khas batik Sumedang, kemudian mempopulerkan dan mempublikasikannya secara luas sehingga melekat sebagai identitas daerah.
“Saya ingin dari kegiatan ini nantinya bisa dipastikan apa yang akan menjadi ciri khas Sumedang atau yang menggambarkan Sumedang. Selanjutnya bagaimana itu bisa dipopulerkan dan dipublikasikan sehingga menjadi identitas yang melekat di benak masyarakat Sumedang dan Indonesia bahwa ini adalah batik Sumedang,” tuturnya.
Dony menegaskan, keberhasilan sebuah kegiatan tidak hanya diukur dari pelaksanaan maupun penetapan para pemenang. Lebih dari itu, keberhasilan ditentukan oleh adanya tindak lanjut, kesinambungan, serta perbaikan yang dilakukan secara berkelanjutan.
“Indikator keberhasilan sebuah kegiatan adalah setelah kegiatan ada tekad yang kuat untuk menindaklanjutinya atau ada kesinambungan. Setelah itu ada perbaikan terus-menerus, sampai terwujud mimpi kita dari Sumedang untuk Indonesia,” katanya.
Dalam pengembangan batik Sumedang, lanjut Dony, terdapat sejumlah aspek yang perlu diperhatikan para perajin. Selain menggali identitas dan karakter daerah, desain batik juga harus mampu memadukan tradisi dengan inovasi.
Setiap desain, menurutnya, perlu memiliki cerita atau narasi yang menggambarkan nilai dan karakter Sumedang. Selain itu, aspek komersial dan keterlibatan generasi muda juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan batik Sumedang.
“Parameter lainnya adalah memadukan antara tradisi dan inovasi. Artinya, bagaimana desain batik ini memadukan antara tradisi dan inovasi. Selain itu, batik harus memiliki cerita atau narasi. Pada setiap desain harus memiliki cerita. Kemudian harus memiliki aspek komersial, dan terakhir libatkan generasi muda sebagai penerus,” ujarnya.
Dony berharap karya-karya yang lahir dari Sumedang Ngabatik 2026 tidak berhenti sebagai hasil kompetisi, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi produk budaya sekaligus produk ekonomi kreatif yang memiliki nilai jual.
Dengan demikian, pengembangan batik Sumedang diharapkan tidak hanya memperkuat upaya pelestarian budaya, tetapi juga mampu membangun identitas daerah serta membuka peluang ekonomi bagi para perajin dan masyarakat. ***






