KANAL

Meneladani Akhlak Rasulullah: Abuya Muhyiddin dan Bupati Dony Tegaskan Maulid Nabi Bukan Sekadar Ritus Seremonial

×

Meneladani Akhlak Rasulullah: Abuya Muhyiddin dan Bupati Dony Tegaskan Maulid Nabi Bukan Sekadar Ritus Seremonial

Sebarkan artikel ini
Foto: Istimewa / Pengajian Umum Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H di Lingkungan Burujul, Kelurahan Kotakulon, Kecamatan Sumedang Selatan, Jumat (18/9/2026).

KAPOL.ID — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah seyogianya tak sekadar menjadi ritus seremonial tahunan, melainkan katalis spiritual untuk mentransformasikan keluhuran akhlak Rasulullah ke dalam denyut kehidupan bermasyarakat.

Pesan substansial tersebut ditegaskan oleh Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, dalam Pengajian Umum Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H yang berlangsung khidmat di kediamannya, Lingkungan Burujul, Kelurahan Kotakulon, Kecamatan Sumedang Selatan, Jumat (18/9/2026).

“Peringatan Maulid Nabi adalah momentum reorientasi moral untuk meresapi, mengingat, dan mengimplementasikan rekam jejak keteladanan Rasulullah SAW dalam tindakan nyata sehari-hari,” tegas Dony di hadapan para jamaah.

Mengaitkan esensi kecintaan pada nilai-nilai kenabian, Dony menganalogikan bahwa manifestasi cinta sejati menuntut pembuktian konkret yang melampaui batas retorika.

“Manifestasi cinta tidak cukup diartikulasikan lewat tutur kata, melainkan harus terproyeksi secara utuh dalam rekam jejak sikap dan tabiat kita. Jika mengaku mencintai Rasulullah SAW, maka pembuktian tertingginya terletak pada penyelarasan ikhtiar dan integritas perilaku kita dengan sunnah beliau,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa keteladanan kenabian dapat dihadirkan melalui artikulasi tindakan presisi, bertutur kata santun, merawat kejujuran, memelihara kesabaran, meluaskan permaafan, mengayomi sesama, serta melindungi kelompok rentan.

Peringatan keagamaan, tegasnya, jangan sampai kehilangan pautannya dengan realitas sosial pasca-acara usai.

Senada dengan Bupati, Pimpinan Pondok Pesantren Asy-Syifaa Wal Mahmuudiyyah Sumedang, KH Muhammad Muhyiddin Abdul Qodir Al-Manafi (Abuya Muhyiddin), dalam tausiyahnya menggarisbawahi keotentikan iman dan cinta kepada Nabi.

Menurutnya, klaim keimanan kehilangan legitimasinya apabila pola interaksi sosial seseorang masih bertolak belakang dengan risalah kebaikan yang dibawakan Rasulullah.

“Otentisitas cinta kepada Nabi Muhammad SAW diuji dari sejauh mana nilai-nilai kenabian mengejawantah dalam tata kelola tutur kata, tenggang rasa, kejujuran, dan keagungan budi pekerti kita di tengah masyarakat,” tutur Abuya Muhyiddin.***