KAPOL.ID –
Mewabahnya bencana virus corona atau Covid-19 memukul berbagai sektor ekonomi warga. Salah satunya dirasakan oleh warga yang bekerja sebagai supir, dilema antara takut dan isi perut.
Saat ditemui KAPOL.ID di Terminal Induk Singaparna Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (7/4/2020), pengurus Bus Primajasa tujuan Jabodetabek, Irwan Roswandi menghadapi dilema.
“Banyak rekan sopir yang urung narik. Pendapatan yang tidak sebanding dengan jerih payahnya. Ada yang bilang capai dan ada juga memang yang takut karena virus,” terangnya.
Ia mengaku pendapatan anjlok sejak wabah corona merebak. Bahkan diperparah dengan situasi banyaknya warga yang urung menggunakan jasa bus.
Jauh berbeda saat hari biasa biasanya bus itu penuh. Kalaupun sepi juga tidak sampai kosong, paling tidak setengah terisi.
“Sekarang dari arah Jakarta paling maksimal lima orang. Kalau dari Singaparna kini paling dua orang itu terhitung masih ada, bahkan sampai melompong, yang ada nombok terus,” katanya.
Pengakuan senada dari Anton salah satu supir angkutan Cigalontang. Penghasilan perharinya turut hilang terpapar corona.
“Sejak ada corona pendapatan saya perharinya itu turun. Ada uang lebih buat bayar setoran saja sudah Alhamdulilah, meski kadang tak nutup operasional,” katanya.
Karena itu, Irwan dan Anton meminta agar pemerintah pusat memperhatikan rakyat kelas menengah bawah.
Merekapun sadar, jika kondisi sulit ini bukan saja dirasakan para sopir bus, namun juga sopir angkutan kota dan para pengemudi lain yang mengandalkan pendapatan harian.
“Jangan sampai ini memperparah kondisi sehingga tidak stabil. Kalau di rumah tapi tidak memenuhi gizi, sama saja penyakit akan datang. Ini yang harus diperhatikan,” harap mereka. (dhi-dhi)***












