Wabup Deni “Masantren” di Maniis

  • Bagikan
Wakil Bupati Tasikmalaya, Deni R Sagara berdiskusi dengan pimpinan Pondok Pesantren Maniis, Kiyai Encep Selasa (23/2/2021) malam. Di Pesantren tersebut Deni ikut berjamaah salat Maghrib, Isya dan berjamaah Salat Subuh.***

KAPOL. ID- Wakil Bupati Tasikmalaya, Deni Ramdani Sagara menghabiskan waktu satu malam di pondok pesantren Manis, Desa Karyawangi, Kecamatan Salopa, untuk belajar ilmu agama atau masantren.

Deni sengaja mondok untuk berdiskusi soal ilmu agama dengan pimpinan Pondok Pesantren Manis, Kiyai Encep dan merasakan suasana mondok di pesantren yang masih terjaga keaslian dan belum tersentuh teknologi.

Di Pesantren Manis Deni Sagara ikut berbaur dengan para santri untuk melaksanakan salat maghrib, isya dan salat subuh berjamaah. Dan bisa menikmati nasi liwet khas para santri maniis.

“Alhamdulillah bisa bersilaturahmi dengan pimpinan pesantren Maniis, meskipun hanya satu malam, tetapi sangat bermakna bisa mendapatkan ilmu yang luar biasa,” kata Deni Sagara Rabu (24/2/2021).

Seperti biasa, Deni terus berkeliling menyapa masyarakat dan juga mengunjungi mesjid dan pesantren, sebagai upaya untuk mendekatkan antara pemimpin dengan alim ulama dan masyarakat.

Deni berangkat dari Rumah Selasa (23/2/2021) selepas Ashar dan sengaja ikut salat berjamaah Magrib di Pesantren Mama Maniis yang dilanjutkan ikut menginap di pesantren yang keasliannya masih dipertahankan.

“Dengan menginap di pesantren maniis saya bisa merasakan kembali saat ngobong dulu. Dan di maniis ini suasana lain, masih sangat asri dan bangunan pesantren masih sangat klasik tidak ada perubahan sama sekali, ” katanya.

Ia juga mengatakan seorang pemimpin itu harus dekat dengan masyarakat dan selalu meminta arahan dari para ulama dan kiyai agar ketika memipin tidak salah jalan.

Meskipun hanya sebentar mengisi posisi wakil Bupati, Deni mengaku ingin menjadi pemimpin yang baik. Karena kepemimpinan yang diembannya harus dipertanggungjawabkan utamanya kelak diakherat.

Pimpinan Pondok Pesantren Maniis, Kiyai Encep mengaku kaget pesantrennya di kunjungi wakil Bupati yang datang tanpa pemberitahuan sebelum. Namun Ia juga merasa tersanjung bisa dikunjungi oleh seorang pimpinan di Kabupaten Tasikmalaya.

“Kaget namun juga reueeus bisa dikunjungi wakil bupati Tasikmalaya. Namun maaf kondisinya seadanya tidak ada persiapan sama sekali,” katanya.

Ia mendoakan semoga Deni Sagara bisa menjadi pemimpin yang baik dan membawa keberkahan bagi Kabupaten Tasikmalaya meskipun masa jabatannya singkat.

Pesantren Maniis sendiri dikenal dengan pesantren yang tetap mempertahankan bangunan asli pesantren sejak didirikan dulu yakni menggunakan material kayu dengan atap ijuk.Tidak ada bangunan permanen apalagi beton di lokasi pesantren.

Pesantren Maniis didirikan pada tahun 1950 oleh almarhum KH Udin Samsudin atau yang lebih dikenal dengan Mama Maniis. Pada masa pemberontak DI/TII pesantren tersebut sempat berhenti karena bangunan pesantren dibakar gerombolan DI/TII.

Dan pada Tahun 1963 pesantren Maniis tersebut dirintis kembali dengan menambah beberapa bangunan pondok. Ada bangunan mesjid, madrasah, lima rumah dan empat Pondok. Semuanya dibangun dengan arsitektur tradisional, berdinding campuran tembok dan bilik serta beratapkan ijuk.

Sejak pertama kali berdiri, pesantren yang sudah dikenal hingga Madura itu selalu memiliki jumlah santri sebanyak 50 orang saja.Dan ajaran yang disampaikan kepada santri lebih menekankan ajaran ilmu tasawuf.

Untuk kegiatan belajar, tidak hanya madrasah dan masjid saja yang bisa digunakan, tapi juga sejumlah beranda yang ditata sedemikian rupa sehingga sangat nyaman untuk belajar maupun tadarusan. Tata letak setiap bangunan tampak artistik bertingkat-tingkat, karena berada di sebuah lereng bukit.***

  • Bagikan