KAPOL.ID –
Budaya sadar bencana harus dimulai dari sejak dini dan dimulai dari individu, keluarga, komunitas, sekolah sampai lingkungan masyarakat.
Demikian dikatakan Sekda Kota Tasikmalaya, Ivan Dicksan di Kelurahan Setiawargi, Kecamatan Tamansari, Rabu (9/11/2022).
“Diseminasi pengurangan risiko bencana
berbasis komunitas ini untuk membangun kesadaran dan kewaspadaan masyarakat,” katanya.
Pengurangan risiko bencana berbasis komunitas, tutur Ivan, pembangunan sistem edukasi kebencanaan berkelanjutan terutama di daerah rawan bencana.
Strategi tersebut meliputi peningkatan intensitas sosialisasi dan kampanye budaya sadar bencana, penyebarluasan informasi kebencanaan baik melalui media cetak, media elektronik, maupun media sosial lainnya.
Serta pelibatan tokoh masyarakat, tokoh agama, lembaga usaha, akademisi dan relawan.
“Masyarakat bertransformasi dari objek menjadi subjek dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana.”
“Sehingga dampak kerusakan dan kerugian akibat bencana dapat diminimalisir,” jelasnya.
Kepala BPBD dan Damkar Kota Tasikmalaya, Ucu Anwar mengatakan penguatan kapasitas relawan bencana sekaligus menyebarluaskan informasi kerawanan bencana.
“Wilayah Setiawargi termasuk dalam daerah tinggi potensi bencana. Mulai dari longsor, pohon tumbang, angin puting beliung, pergerakan tanah. Jika musim kemarau dilanda kekeringan air bersih,” jelasya.
Diseminasi tadi hadir 69 orang perwakilan kelurahan se-Kota Tasikmalaya, 25 orang RW se-Kelurahan Setiawargi dan 23 orang Linmas se-Kecamatan Tamansari. ***






