JAKARTA, KAPOL.ID — Dalam rapat konsolidasi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Bangka Belitung, Wakil Ketua Badan Gizi Nasional (BGN), Sony Sonjaya menekankan satu hal penting, yakni peran strategis mitra dalam membangun SPPG.
Menurutnya, dari sekitar 27 ribu SPPG yang ada saat ini, tidak ada satu pun yang dibangun menggunakan APBN.
“Ini adalah bukti nyata bahwa program ini berjalan melalui kolaborasi dan pemberdayaan,” ucapnya.
Artinya, kata Sony, kekuatan MBG bukan hanya pada programnya, tapi pada keterlibatan banyak pihak yang bergerak bersama.
“Tanpa mitra, program sebesar ini tidak akan bisa berjalan maksimal. Inilah esensi dari pemberdayaan, ketika semua berkontribusi, semua bergerak, dan dampaknya dirasakan luas oleh masyarakat,” katanya
Program MBG bukan milik satu pihak, kata dia, tapi gerakan bersama untuk gizi bangsa.
Langkah nyata terus bergerak!
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi menambah 27 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dengan pusat peresmian di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.
Kini, lebih dari 250 SPPG telah beroperasi di seluruh Indonesia, menjadi bukti bahwa pemenuhan gizi masyarakat bisa berjalan seiring dengan penguatan ketahanan sosial berbasis komunitas.
Di Lirboyo sendiri, kebutuhan masih sangat besar. Dari sekitar 52 ribu santri, baru dua SPPG yang aktif melayani. Ke depan, penambahan unit terus didorong agar seluruh santri bisa merasakan manfaatnya.
Menariknya, SPPG bukan hanya soal makanan bergizi. Bersama Badan Gizi Nasional, pengembangannya juga mulai mengarah pada ekosistem ekonomi, menghubungkan pelaku usaha lokal dengan pembiayaan, sekaligus membuka pasar bagi produk masyarakat.
Artinya, dampaknya tidak berhenti di piring makan. Tapi juga menggerakkan ekonomi, membuka peluang, dan memperkuat kemandirian.Dari pesantren, untuk Indonesia.***












