KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Langkah konkret untuk menjamin pemerataan gizi di wilayah pelosok mulai dimatangkan.
Bertempat di Kampung Ilmu, Desa Cisarua, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta, sejumlah ilmuwan terkemuka dari Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan peninjauan mendalam terhadap bakal Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Jumat (29/5/2026).
Peninjauan yang dipimpin langsung oleh sosiolog kawakan, Prof. Imam Prasodjo, ini difokuskan pada implementasi teknologi dan konsep pemberdayaan masyarakat guna mendukung keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya di daerah terpencil.
Pertemuan strategis ini bukan sekadar kunjungan formalitas. Kehadiran para pakar dari tiga perguruan tinggi papan atas Indonesia tersebut menjadi sinyal kuat bahwa keberlanjutan program gizi nasional memerlukan sentuhan sains dan teknologi yang tepat guna.
Soni Sonjaya, dalam unggahan media sosial pribadinya, menyebutkan bahwa kolaborasi ini adalah langkah kunci untuk menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat yang selama ini sulit terjangkau akses bantuan gizi secara maksimal.
“Pertemuan ini menjadi langkah kolaboratif dalam mendorong konsep pemberdayaan masyarakat serta implementasi teknologi guna mendukung keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya di wilayah terpencil,” tulis Soni.
Pemilihan Kampung Ilmu di Desa Cisarua sebagai lokasi peninjauan bakal SPPG dinilai sangat strategis. Wilayah ini diharapkan mampu menjadi model bagaimana teknologi pangan dan manajemen distribusi berbasis komunitas dapat berjalan beriringan.
Fokus utamanya adalah memastikan bahwa distribusi pangan bergizi tidak hanya sampai ke tangan masyarakat, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Jawa Barat secara berkelanjutan.
Sinergi antara akademisi, pemerintah, dan elemen masyarakat diharapkan tidak berhenti pada level diskusi. Tantangan geografis di wilayah seperti Tegalwaru memerlukan skema distribusi yang tangguh agar tidak ada ketimpangan gizi di daerah pelosok.
“Semoga sinergi ini dapat menghadirkan solusi nyata demi pemerataan gizi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia,” pungkas Soni dalam narasinya.
Dengan pengawalan dari para ilmuwan lintas disiplin ini, publik kini menanti sejauh mana konsep SPPG di Kampung Ilmu dapat diduplikasi secara nasional untuk menjawab tantangan krisis gizi di tanah air. ***






