KANAL

Dianggap “Buta” Realitas Akar Rumput, HPDKI Kabupaten Sumedang dan HPDKI Ujungjaya Digugat Lewat Aksi Nyata

×

Dianggap “Buta” Realitas Akar Rumput, HPDKI Kabupaten Sumedang dan HPDKI Ujungjaya Digugat Lewat Aksi Nyata

Sebarkan artikel ini

KABAR PRIANGAN ONLINE – Gelaran ketangkasan adu domba Garut di Pamidangan Sakurjaya, Kecamatan Ujungjaya, Minggu (5/7/2026), menjadi panggung kontras yang benderang.

Di satu sisi, ratusan warga dan pelaku UMKM bersuka cita merayakan denyut ekonomi lokal yang kembali bergairah. Namun di sisi lain, riuh rendah sorak penonton justru menggaungkan kritik paling menohok bagi birokrasi organisasi peternak.

Mantan Ketua Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) Kecamatan Ujungjaya, Itang Sonjaya, melayangkan otokritik pedas yang menyasar langsung jantung kepengurusan HPDKI Kabupaten Sumedang dan HPDKI Kecamatan Ujungjaya.

Kedua lini kepengurusan ini dituding mandek, pasif, dan kehilangan taji dalam mengayomi konstituennya sendiri.

Substansi mendasar dari kegusaran Itang terletak pada ironi regulasi dan absennya dukungan moril maupun materil dari HPDKI Kabupaten Sumedang.

Acara yang sukses menyedot massa ini nyatanya berjalan tanpa restu formal sebuah konfirmasi nyata atas jurang pemisah antara pengurus yang duduk di menara gading dengan realitas di akar rumput.

“Pelaksanaan hari ini di Pamidangan Sakurjaya murni atas inisiatif pribadi saya karena kecintaan pada budaya ini, serta dukungan penuh dari warga dan pelaku UMKM setempat. Sama sekali tidak ada atensi atau izin dari HPDKI Kabupaten,” ujar Itang, menegaskan isolasi institusional yang dialaminya.

Itang menilai elite organisasi gagal melihat esensi dari seni ketangkasan domba. HPDKI dituding menutup mata terhadap dampak sosiologis dan multiplisitas ekonomi (economic multiplier effect) bagi pedagang kecil dan peternak di wilayah pinggiran seperti Ujungjaya.

Runtuhnya Apologi Anggaran Lewat Hadiah Mandiri

Kelambanan struktural HPDKI Ujungjaya periode aktif dan sikap abai pengurus kabupaten dibayar kontan oleh Itang. Melalui pembuktian personal yang berani, ia meruntuhkan dalih klasik yang kerap berlindung di balik tameng “ketiadaan anggaran.”

Secara mandiri, tanpa sokongan dana sepeser pun dari kas organisasi atau pihak luar, Itang mendanai gelaran ini dari kantong pribadi.

Langkah ini bukan sekadar unjuk kekuatan finansial, melainkan sebuah pernyataan politik kebudayaan yang tegas. Hadiah-hadiah mewah seperti sepeda listrik hingga kulkas dihadirkan demi menjaga martabat kompetisi dan antusiasme para peserta.

Keberhasilan di Pamidangan Sakurjaya mengirimkan sinyal bahaya sebuah lampu merah bagi eksistensi HPDKI di Sumedang. Fakta hari ini membuktikan bahwa dedikasi satu figur murni mampu melampaui lambannya roda birokrasi sebuah organisasi formal.

Ada dua substansi penting yang menjadi catatan merah dari peristiwa ini:

Bagi HPDKI Kecamatan Ujungjaya: Organisasi telah kehilangan inisiatif dan kepemimpinan di rumahnya sendiri. Ketika peternak dan pelaku UMKM siap bergerak, organisasi justru absen di garis belakang.

Bagi HPDKI Kabupaten Sumedang: Ini adalah peringatan keras bahwa yurisdiksi mereka melampaui batas pusat kota. Jika urusan administratif terus menjegal ruang gerak pembudidaya akar rumput, organisasi ini berisiko ditinggalkan dan kehilangan relevansinya.

Dari tanah Ujungjaya, para peternak dan pencinta budaya hari ini menegaskan satu kebenaran sosiologis: Legitimasi sebuah seni budaya tidak pernah lahir dari selembar Surat Keputusan (SK) atau stempel pengurus, melainkan dari keringat dan aksi nyata di lapangan.***