”Biarkan patah hati ini mengendap; menjadi oksigen yang kau hirup. Agar kau rasakan sesak, bagaimana sulitnya menahan rindu. Lantas, kurayakan patah ini semeriah-meriahnya!”
Setelah lebih dari satu dekade menulis dan menyimpan serpihan-serpihan perasaan dalam puisi. Imana Tahira, resmi meluncurkan buku antologi puisi tunggal perdananya ”Menyudahi Patah Hati di Akhir Pekan” yang menjadi dokumentasi emosional tentang perjalanan cinta yang tumbuh bersama waktu—menyusun konfigurasi khayali tentang cinta bagi pembacanya.
Lebih dari sekedar kumpulan puisi, buku ini merupakan arsip perasaan yang ditulis sejak masa remaja-hingga kini, ia merekam bagaimana cinta hadir dengan banyak wajah dan membentuk kesadaran manusia bahwa nasibnya kadang memang ada untuk ditangisi sekaligus disyukuri.
Secara psikologis, pengalaman yang diangkat dalam buku ini merupakan bagian dari perjalanan emosional yang sangat manusiawi. Psikolog Robert Stenberg melalui Triangular Theory of Love menjelaskan bahwa cinta terdiri atas tiga unsur utama: keintiman, gairah, dan komitmen. Ketika salah satu atau seluruh unsur tersebut runtuh, seseorang tidak hanya kehilangan pasangan, tetapi juga kehilangan harapan, rutinitas, serta masa depan yang pernah dibayangkan bersama.
Sementara itu, berbagai penelitian mengenai Attachment Theory menunjukkan bahwa ikatan romantis bekerja menyerupai ikatan emosional yang mendalam. Ketika hubungan berakhir, otak merespons kehilangan tersebut sebagai bentuk perpisahan yang nyata sehingga memunculkan reaksi seperti sedih, rindu, marah, penyangkalan, hingga kesepian. Meski demikian, penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar individu mampu beradaptasi dan pulih seiring waktu, menemukan makna baru, lalu membangun hubungan yang sehat di kemudian hari.
Dalam hal ini, ”Menyudahi Patah Hati di Akhir Pekan” menghadirkan puisi sebagai ruang refleksi. Alih-alih menawarkan jawaban atas patah hati, buku ini justru mengajak pembaca menyadari bahwa setiap kehilangan adalah bagian dari proses mengenali diri sendiri. Sebab, setiap perasaan membutuhkan ruang untuk dirayakan.
Bagi Shohifur Ridho’i, seorang penulis dan sutradara pertunjukan—sekaligus mentor Imana selama berkesenian di Teater ESKA Yogyakarta mengatakan bahwa; “Buku kumpulan puisi ini adalah cinta yang meledak dengan banyak wajah; getirnya cinta yang berkelindan dengan renungan spiritual, letupan harapan yang lembut sekaligus kemarahan yang membuncah. Seluruhnya manusiawi. Imana Tahira seolah mengingatkan bahwa cinta selalu kembali, bahkan dari puing-puing patah hati, sebab tak ada cinta yang kita rayakan tanpa sekaligus mengutuknya,” ungkapnya.
Sementara, menurut Ratna Ayu Budhiarti seorang penulis perempuan menambahkan bahwa; puisi-puisi Imana seperti cinta yang hening dan diam-diam, platonis yang manis. Perjalanan rasa dalan puisinya adalah perayaan terhadap luka, patah hati sekaligus kegembiraan itu sendiri.
“Sebagai perempuan, Imana tegas mengabarkan pada dunia bahwa di dadanya cinta mengada sebagai suaka ketika luka butuhkan penawar. Bukan dalam kepasrahan, melainkan ketegasan penuh kesadaran,” tambahnya.
Melalui bahasa yang apa adanya dan reflektif, Imana Tahira mengajak pembaca menengok kembali kenangan-kenangan yang bisa dirawat. Buku ini ditujukan bagi siapa saja yang pernah mencintai, kehilangan atau sedang belajar menerima bahwa tidak semua kisah harus berakhir dengan saling memiliki.
”Menyudahi Patah Hati” tepat diluncurkan pada bulan kelahirannya. Maka, sebagai bentuk syukur dan kado ulang tahun penulis, ada harga spesial selama bulan Juli!
Buku ini bisa kamu beli dengan harga Rp 60.000, pemesanan bisa langsung hubungi penulis di instagram @imanatahira atau melalui WhatsApp: +62 819 4771 6764.
Mari bersama-sama menyudahi patah hati di akhir pekan ini!







